Efi
Mengubah Sifat Menjadi Lebih Baik

Merantau dari Pekanbaru dan pindah bekerja di Jakarta, secara tidak langsung ternyata memengaruhi perubahan emosional dalam diri saya. Tuntutan pekerjaan membuat emosi saya menjadi mudah terpancing. Ditambah sifat saya yang keras, tidak mau mengalah, dan berbicara apa adanya membuat saya sering terlibat perdebatan dengan orang lain.

Saya sadar hal itu tidak baik bagi diri saya. Orang bilang, bervegetaris dapat mengurangi emosi. Saya pun mencobanya meskipun tidak rutin, namun hal itu tidak membuahkan hasil. Ada juga yang bilang, mengubah diri harus dimulai dari tekad diri sendiri untuk tidak marah. Saya pun mencobanya, bertekad dalam hati, “Hari ini saya tidak akan marah!” Namun begitu sampai di tempat kerja dan bertemu hal serupa, emosi saya kembali terpancing.

Nasihat Guru

Ketika itu tahun 2010, saya menonton salah satu drama yang ditayangkan di DAAI TV. Dalam drama tersebut, dikisahkan salah seorang relawan yang sangat emosional dan setelah bergabung dengan Tzu Chi, sifat buruk dalam dirinya pun perlahan-lahan berubah.

Saya kemudian mencari Tzu Chi beberapa kali, namun gagal. Akhirnya saya mengandalkan doa. Berselang sekian waktu, jalinan jodoh itu pun mendekat melalui adik saya yang melihat keberadaan Jing Si Books and Café Pluit. Tanpa menunggu lebih lama, saya segera mengunjungi toko buku itu.

Saat saya datang, Livia, relawan Tzu Chi sekaligus penanggung jawab toko buku tersebut menyambut saya dengan ramah. Ia banyak menjelaskan mengenai Tzu Chi dan bagaimana cara bersumbangsih menjadi relawan. Tidak lama kemudian, saya mengikuti sosialisasi relawan baru dan aktif berkegiatan menjadi relawan abu putih.

Setahun berikutnya, di tahun 2011 saya dilantik menjadi relawan biru putih dan diangkat menjadi salah satu ketua Xie Li di Hu Ai (komunitas) Angke. Di tahun yang sama, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti training 4 in 1 di Taiwan. Saya sungguh tidak menyangka, akhirnya bisa bertemu langsung dengan Master Cheng Yen.

Pertama kali melihat beliau, saya sama sekali tidak menangis, berbeda dengan cerita dari relawan lain yang biasanya akan menangis begitu berjumpa dengan Master. Saat Master memberikan ceramah, di dalam hati saya bergumam, "Master, saya memiliki sifat yang sangat buruk. Harus bagaimana untuk dapat mengubahnya?" Seperti seolah-olah Master menatap ke arah saya, beliau mengatakan, “Hubungan antar manusia tidak ada yang salah, juga tidak ada yang benar. Asalkan bisa mengalah, dapat mundur selangkah, maka tidak akan terjadi masalah. Baik itu di dalam keluarga maupun dalam pekerjaan.” Mendengar kata-kata itu, tidak terasa air mata saya jatuh. Saya merasa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati saya.

Berbekal nasihat dari Master Cheng Yen, saya mulai mengubah diri sendiri. Jika emosi mulai muncul di dalam diri, saya memilih untuk diam terlebih dahulu. Diam bukan berarti saya tidak menghargai lawan bicara saya, namun bertujuan untuk meredam emosi saya agar tidak meledak. Ternyata cara ini lumayan berhasil. Perlahan-lahan, hubungan saya dengan atasan pun membaik. Perdebatan dengan nada tinggi tidak lagi sering terjadi.

Di jalan Boddhisatwa ini, lingkungan yang baik ini, saya percaya perlahan-lahan kita dapat mengikis tabiat buruk sehingga menjadi orang yang lebih baik. Ada satu kata perenungan Master yang saya sukai, yang berbunyi, “Lebih baik memperbaiki diri daripada menuntut orang lain menjadi sempurna.” Saya merasa benar adanya. Kita tidak mungkin menuntut orang lain untuk berubah, melainkan dengan kita mengubah diri sendiri, maka semua akan ikut berubah.

Seperti dituturkan kepada Kartini (He Qi Utara)

Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -