Apa yang Terpenting dalam Hidupmu?

Jurnalis : Kimsry Widjaja (He Qi Utara 1), Fotografer : Marianie (He Qi Utara 1)


Minggu, 5 Agustus 2018, kelas budi pekerti komunitas He Qi Utara 1 kali ini dibawakan oleh muda-mudi Tzu Ching dari Taiwan.

Suasana Minggu pagi, 5 Agustus 2018 di lobi lantai 2 Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara terkesan tertib, para Daai Mama sudah stand by sebelum anak-anak datang. Menjelang kelas budi pekerti komunitas Tzu Chi He Qi Utara 1 ini, terlihat raut wajah ceria terpancar dari para Daai Mama dan anak-anak yang hilir mudik di sekitar meja pendaftaran dan meja break.

Ada yang berbeda pada kegiatan kelas budi pekerti kali ini. Para Tzu Ching dan mahasiswa Taiwan hadir di tengah-tengah kegiatan. Pembelejaran kelas budi pekerti pun dibawakan oleh mereka, dan para Daai Mama hanya mendampingi saja.


Relawan Tzu Chi Indonesia dan Taiwan pun saling memberikan suvenir sebagai tanda terima kasih.

Kegiatan kelas budi pekerti yang diikuti sebanyak 105 anak ini dimulai dengan kata sambutan oleh Yuli Natalia. Dilanjutkan dengan perkenalan tim Tzu Ching Taiwan oleh Junlin. Sebagai tanda perkenalan, tim Tzu Ching Taiwan mempersembahkan sebuah penampilan isyarat tangan yang lincah dan membakar semangat semua peserta kelas.

Kelas kemudian dibagi menjadi 3 kelompok supaya materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik. Salah satunya Tzu Shao Ban. Sebelum memberikan materi, Tzu Ching Taiwan mengajak anak-anak yang sudah dibagi menjadi 6 kelompok melakukan ice breaking terlebih dahulu. “Mari bergerak bersama sesuai dengan instruksi dalam lagu, put hand in, put hand out shake hand,” ucap salah satu Tzu Ching. Setelah suasana hangat, Tzu Ching Taiwan mulai membawakan materi kelas dengan tema Menghargai Setiap Detik Dengan Baik


Anak-anak diajak gerak badan terlebih dahulu sebelum kelas budi pekerti dimulai.

Anak-anak diminta untuk menuliskan setiap aktivitas beserta durasinya dalam satu hari (24 jam) di selembar kertas yang dibagikan, kemudian diajak berdiskusi per kelompok, apakah masih ada aktivitas lain yang bisa dilakukan dari yang sudah mereka tuliskan. 

Tim Tzu Ching juga memutarkan video kisah nyata Dora. Dora adalah anak berusia 15 tahun yang menderita kanker tulang tapi sangat tegar dan dapat memanfaatkan waktunya dengan memainkan alat musik cello untuk menghibur orang sampai akhir hayatnya. Saat menyaksikan video tersebut, beberapa anak sangat tersentuh, bahkan ada yang meneteskan air mata. Setelah menonton video itu, anak-anak diajak untuk merenungkan dan menulis apa yang paling penting bagi mereka di kehidupan ini dan tindakan atau kegiatan penting apa yang ingin mereka lakukan setelah ini? Semuanya pun menulis dengan serius.


Dalam pembelajaran kali ini, anak-anak diajak untuk merenung apa saja yang bisa mereka lakukan dalam 24 jam.

Rata-rata yang dituliskan anak-anak adalah “Yang paling penting dalam hidup saya adalah keluarga saya, saya mau membuat mereka bahagia.” Namun ada juga yang mengharukan seperti yang ditulis Andini, “Saya mau membagikan kemakmuran saya kepada mereka yang tidak mampu. Saya ingin jadi koki, lalu memasak makanan gratis untuk orang tidak mampu.”

Sama seperti Andini, Fenice juga memiliki hati yang murni, “Saya mau membantu teman dan orang yang kesusahan, melakukan hal yang bermanfaat. Tidak mementingkan diri sendiri melainkan mementingkan orang lain.”


Saat menonton sebuah video kisah nyata Dora, anak-anak tersentuh dan meneteskan air mata.

Kami merasa kagum dan gembira membaca tulisan mereka dan tidak menyangka anak-anak remaja ini yang kadang kelihatan agak acuh, tapi ternyata dalam hati mereka memiliki niat yang sangat mulia. Saya merasa sangat bersyukur bisa ikut kegiatan hari ini dan menonton video Dora sehingga diingatkan kembali untuk memanfaatkan waktu dengan baik dan segera memprioritaskan hal yang penting untuk diri saya di kehidupan ini.

Editor: Yuliati

Artikel Terkait

Membangkitkan Cinta Kasih untuk Bumi Sejak Dini

Membangkitkan Cinta Kasih untuk Bumi Sejak Dini

31 Juli 2019
Kelas bimbingan budi pekerti He Qi Pusat pada Minggu, 14 Juli 2019 mengusung tema pemilahan sumber daya dan menyanyangi, serta menghargai bumi. Sebanyak 24 murid qing zi ban besar, 27 murid tzu shao ban, dan 14 orang tua murid hadir mengikuti kelas yang berlangsung di ITC Mangga Dua lantai 6 ini. 
Cinta untuk Papa Mama

Cinta untuk Papa Mama

02 Juni 2021

47 murid Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban, para orang tua, serta 28 relawan berpartisipasi di Kelas Budi Pekerti He Qi Utara 1 yang diadakan pada Minggu, 30 Mei 2021. Mereka bersama merayakan Hari Ibu.

Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Z dan Alfa

Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Z dan Alfa

19 April 2024

Bertajuk Paradigma Baru dalam Pola Asuh, sesi parenting yang digelar relawan pendidikan He Qi Pluit dan He Qi Angke kali ini menghadirkan Andrias Wijaya yang berprofesi sebagai EC Counselor di Tzu Chi School menjadi pengisi materi.

Orang yang mau mengaku salah dan memperbaikinya dengan rendah hati, akan mampu meningkatkan kebijaksanaannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -