Banjir Jakarta: Mari Ulurkan Tangan Kita

Jurnalis : Metta Wulandari/Joliana (He Qi Barat), Fotografer : Rudy Darmawan (He Qi Barat)

foto
Sebanyak 80 relawan He Qi Barat menyiapkan 2.100 nasi bungkus yang akan dibagikan pada 4 RT di wilayah Bojong, Rawa Buaya.

Tahun memang telah berganti, musim juga telah berubah. Kemarau panjang yang berlangsung beberapa bulan terakhir telah ditutup dengan derasnya guyuran hujan. Sejak seminggu terakhir, hujan mengguyur tiada usai membuat air datang melimpah menggenangi setiap sudut ibukota Jakarta. Ruas-ruas jalan dan perumahan sudah bagaikan lautan karena genangan air kian meninggi. Tinggi air yang menggenangi wilayah Jakarta sendiri bervariasi, mulai 30 sentimeter hingga 2 meter. Warga dibuat kelabakan menyelamatkan diri, bahkan ibukota dibuat lumpuh oleh air.

Di wilayah tertentu, seperti kelurahan Bojong, Rawa Buaya, Jakarta Barat, air telah menggenangi perumahan warga sejak hari Senin, 14 Januari 2013 dengan tinggi air mencapai pinggang orang dewasa atau sekitar 80 sentimeter. Melihat kondisi ibukota yang kian membutuhkan uluran bantuan, Jumat, 18 Januari 2013, mulai dari jam 7 pagi relawan Tzu Chi berkumpul di Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi. Di sana sebanyak 80 relawan mulai memasak makanan untuk dibagikan pada 4 RT di 2 RW di wilayah Bojong. Bantuan yang diberikan berupa 2.100 nasi bungkus, 200 dus mi instan, dan 200 dus air mineral berkapasitas 600 ml.

 

foto  foto

Keterangan :

  • Bertempat di Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi, para relawan ini menyiapkan bantuan sejak jam 7 pagi (kiri).
  • Bantuan yang diberikan bag`i warga Bojong meliputi 2.100 nasi bungkus, 200 kardus mi instan, serta 200 kardus air mineral 600 ml (kanan).

Bantuan pertama
“Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah air,” ujar Joliana Shijie, salah satu relawan yang turut memberikan bantuan di wilayah Bojong, Rawa Buaya. Ia dan 40 relawan lainnya turun ke lapangan untuk membagikan nasi bungkus kepada warga. Pembagian ini disambut gembira karena nasi bungkus ini merupakan bantuan pertama yang mereka terima sejak banjir yang menimpa mereka pada Senin lalu (14 Januari 2013). Banyak warga yang belum dievakuasi dan masih tinggal di rumah mereka, bukan karena mereka ingin menjaga harta benda yang tersisa namun karena posko bantuan yang ada telah penuh oleh warga. “Sebenarnya mereka mau dievakuasi ke tempat yang lebih aman, tapi ternyata tempat tujuan evakuasi atau posko bantuannya tidak memadai dan telah penuh dengan warga lain. Jadi mereka tidak ada pilihan lain selain tetap tinggal di rumah,” kata Joliana Shijie.

 

foto  foto

Keterangan :

  • Ketinggian air mencapai 80 sentimenter merendam pemukiman warga yang padat ini. Sebagian besar warga masih tinggal di rumah mereka karena posko yang telah penuh oleh pengungsi. (kiri).
  • Bantuan yang diberikan oleh Tzu Chi merupakan bantuan pertama yang diterima oleh warga, walaupun bantuan yang diberikan belum dapat sepenuhnya mengobati penderitaan mereka, namun semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat. (kanan).

Para relawan dengan semangat memberikan uluran tangan bagi mereka yang sedang dirundung musibah. Mereka tak menampakkan kelelahan meski sejak hari sebelumnya telah mulai membagikan bantuan dari jam 7 pagi dan baru selesai jam 7 malam. Joliana Shijie mengungkapkan, “Kami masih semangat buat bantu-bantu, apalagi Tzu Chi memberikan bantuan pertama. Kalau dipikir, kasihan sekali warga-warga yang sudah dari hari senin rumahnya terendam banjir tapi belum ada yang kasih bantuan. Kita tidak bisa cuma mengandalkan bantuan dari pemerintah, tapi yang dari komunitas juga harus bertindak,” tutur Joliana.

  
 

Artikel Terkait

Pemberkahan Akhir Tahun 2017 di Biak yang Terasa Istimewa

Pemberkahan Akhir Tahun 2017 di Biak yang Terasa Istimewa

17 Januari 2018

Pemberkahan Akhir Tahun 2017 yang diadakan di Aula Vihara Buddha Dharma Biak terasa spesial karena bersamaan dengan Ethical Eating Day. Para tamu diajak untuk berkomitmen dengan 1 orang, 1 hari bervegetaris untuk 1 bumi.

Begitu Berartinya Sebuah Pacemaker

Begitu Berartinya Sebuah Pacemaker

23 Februari 2023

Kondisi jantung Arif Ngadianto (81) semakin membaik selepas operasi pemasangan alat pacu jantung, pacemaker, yang merupakan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Meski ia hanya bisa terbaring karena tenaganya belum pulih, namun wajahnya tampak segar. Ia juga tak pernah pingsan lagi seperti sebelum-sebelumnya.

Kebersamaan TIMA Tzu Chi Bandung

Kebersamaan TIMA Tzu Chi Bandung

08 Desember 2016
Pada tanggal 4 Desember 2016, Yayasan Buddha Tzu Chi Bandung mengadakan acara Ramah Tamah bagi anggota TIMA Bandung yang bertempat di Priangan Medical Center, Jl. Nana Rohana No. 37, Bandung.
Sikap mulia yang paling sulit ditemukan pada seseorang adalah kesediaan memikul semua tanggung jawab dengan kekuatan yang ada.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -