Festival Kue Bulan

Jurnalis : Santi Mitra Sari (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Wismina (Tzu Chi Pekanbaru)
 
 

fotoPara relawan sedang menunjukkan lampion hasil karya mereka yang terbuat dari bahan daur ulang.

Kue bulan adalah makanan tradisional yang disajikan setiap tahun pada perayaan festival musim gugur yang dirayakan pada bulan 8 tanggal 15 penanggalan lunar. Di Indonesia, kue bulan dikenal dalam dialek hokkiannya, Tiong Ciu Pia. Bentuknya yang bulat melambangkan kebersamaan atau keutuhan. Semua anggota keluarga diharapkan untuk dapat berkumpul bersama pada malam festival musim gugur agar dapat melihat bulan purnama nan indah bersama-sama sambil menikmati kue bulan.

Karena Tzu Chi juga merupakan satu keluarga, maka relawan Tzu Chi juga berkumpul bersama untuk merayakan festival musim gugur. Walaupun terlahir dari ibu yang berbeda, insan Tzu Chi telah menganggap insan-insan Tzu Chi lainnya sebagai anggota keluarga besar mereka. Perayaan malam fesival musim gugur Tzu Chi Pekanbaru dirayakan pada bulan 8 tanggal 14 penanggalan lunar, tepatnya pada hari Selasa tanggal 21 September 2010, sehari sebelum perayaan kue bulan. Ini dimaksudkan agar tidak mengganggu waktu relawan untuk keluarga mereka masing-masing. Perayaan ini dilaksanakan di rumah keluarga besar Tzu Chi Pekanbaru.

Dalam rangka merayakan festival ini, relawan Tzu Chi mengadakan kuis cerdas cermat seputar pengetahuan mengenai Tzu Chi. Insan Tzu Chi yang ikut berpartisipasi dalam cerdas cermat datang dari berbagai kalangan relawan, mulai dari relawan rompi (baru), kelas budi pekerti, muda-mudi Tzu Chi, relawan abu putih, dan relawan biru putih.

Kuis cerdas cermat ini dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama adalah pertanyaan tentang Tzu Chi, sesi kedua melengkapi kata-kata perenungan Master Cheng Yen, sesi ketiga menebak isyarat tangan, dan sesi keempat adalah melanjutkan lirik lagu. Setiap grup mendapat porsi soal yang sama, yaitu 3 soal per sesi. Soal-soal dimasukkan ke dalam amplop. Peserta grup memilih sendiri soal mereka yang dimasukkan ke dalam  amplop dan MC akan membacakan soal mereka satu per satu. Jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan yang dibacakan oleh MC, maka pertanyaan itu akan dioper ke grup selanjutnya. Agar cerdas cermat ini dapat berjalan dengan tertib, cerdas cermat ini tidak menggunakan sistem “siapa cepat dia dapat”. Jadi, peserta harus dengan sabar menunggu giliran mereka.

foto  foto

Ket : - Siswa kelas budi pekerti sedang memilih soal yang dimasukkan ke dalam amplop merah. (kiri)
        - Relawan yang datang pada acara festifal kue bulan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk             memainkan cerdas cermat. (kanan)

Terlihat antusias dan semangat relawan dalam menjawab pertanyaan. Pada dasarnya cerdas cermat ini dilaksanakan dengan adil, maka pada akhir cerdas cermat ini tidak ada yang mendapat juara pertama atau terakhir. Semuanya sama. Sama-sama mendapatkan penghargaan berupa gantungan kunci kreasi / kerajinan tangan relawan. Dari cerdas cermat ini, para peserta menjadi tahu banyak dan belajar banyak dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Untuk menambah kemeriahan festival musim gugur, para relawan juga membuat dan membawa lampion. Relawan yang membuat lampion karya mereka sendiri dari barang-barang daur ulang, seperti botol minuman, angpao, kotak kue, dan barang-barang bekas lainnya. Dari barang-barang bekas disulap menjadi sebuah lampion cantik dan indah, seperti lampion yang dibuat oleh Ling-Ling yang terbuat dari botol minuman berwarna hijau. “Lampion ini dibuat dalam waktu dua jam. Bahannya hanya botol minuman bekas. Setelah itu dihias dengan pita agar terlihat lebih manis. Lalu dibawahnya di pasang kata perenungan Master,” ujar Ling-Ling.

foto  foto

Ket : - Pada dasarnya cerdas cermat yang diadakan pada festifal kue bulan bertujuan agar para relawan               menjadi tahu banyak dan belajar banyak tentang Tzu Chi. (kiri).
         - Samsung Techwin membutuhkan waktu beberapa hari untuk membuat lampion berbentuk logo Tzu Chi.            (kanan)

Luanita atau yang biasa dikenal dengan nama Kim Luan mempersembahkan sebuah lampion yang berbentuk logo Tzu Chi. Lampion tersebut dibuat oleh suaminya dengan menggunakan kawat yang dibentuk menjadi rangka logo Tzu Chi. Kemudian, dimasukkan lampu yang dihubungkan dengan kabel dan rangka tersebut ditutup dengan kain berwarna hijau sesuai dengan warna logo Tzu Chi. Tulisan Tzu Chi dan kapal dibuat dengan gabus yang dipahat hingga menyerupai sebuah tulisan Tzu Chi dalam mandarin dan kapal. Setelah dipahat, ditaburi dengan manik-manik berwarna silver agar kelihatan berkilau. Lampion ini selesai dibuat dalam kurun waktu empat hingga lima hari. Semua karya akan menjadi karya yang indah, jika karya tersebut dibuat dengan penuh konsentrasi dan sepenuh hati. Bahkan karya dari barang-barang bekas pun akan menjadi sangat indah.

Setelah jelas aturan permainannya maka semua bersama–sama bernyanyi. “Yi pi ya ya, yi pi yi pi ya, yi pi ya ya, yi pi yi pi ya“. Walau kelihatannya permainan ini mudah, ternyata masih banyak yang tidak bisa melakukannya dengan sempurna. Tawa pun mewarnai ruangan karena banyak diantara mereka yang menjadi kebingungan. Pesan yang ingin disampaikan dari permainan ini adalah jangan mudah putus asa dan terus berusaha, maka keberhasilan itu akan datang.

Sebagai acara penutup, para relawan memperagakan bahasa isyarat tangan yang berjudul Rang Ai Chuan Chu Qu yang artinya sebarkanlah cinta kasih ke seluruh dunia. Walau para relawan bukanlah seorang dokter yang dapat menyembuhkan penyakit tetapi para relawan adalah seorang “dokter hati“ yang bisa menyembuhkan beban batin para pasien. Jika perasaan pasien tidak menderita maka penyakit pun akan cepat sirna.

  
 
 

Artikel Terkait

Mengajak Anak-anak Peduli Lingkungan Sejak Dini

Mengajak Anak-anak Peduli Lingkungan Sejak Dini

07 Juni 2017

Hari itu, Depo Duri Kosambi kedatangan tamu spesial, yakni anak asuh dari He Qi Pusat sebanyak 58 anak dan 12 orangtua murid. Anak–anak dari berbagai usia sekolah dasar hingga yang sudah lulus sekolah menengah atas ini diajak untuk mengenal dan peduli akan pelestarian lingkungan.

Berbagi Kebahagiaan di Momen Imlek

Berbagi Kebahagiaan di Momen Imlek

02 Februari 2022

Sebanyak 600 paket beras dibagikan kepada warga perkampungan yang tinggal di belakang tanggul perairan melalui Vihara Buddha Jayanti dan Cetiya Theravada Dhamma Viriya.

Berbagi Perhatian Tanpa Melupakan Kesehatan Diri

Berbagi Perhatian Tanpa Melupakan Kesehatan Diri

02 Mei 2009 Kesehatan adalah harta utama manusia. Dengan tubuh yang sehat, manusia dapat beraktivitas secara leluasa. Bagi mereka yang sakit, rumah sakit menjadi rumah sementara hingga kesembuhan menyertai. Bayangan orang terhadap para pasien rumah sakit adalah betapa rapuhnya kesehatan para penghuni di dalamnya.
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -