He Qi Tangerang Memperpanjang Barisan Bodhisatwa Dunia

Jurnalis : Yuliawati Yohanda (He Qi Tangerang), Fotografer : Binawan T, James Hong Yip, Wanda Pratama (He Qi Tangerang)

Agus Hartono salah satu pengisi materi pelatihan membawakan Kisah Master Cheng Yen agar para relawan teringat kembali perjuangan Master Cheng Yen sejak kecil dalam kondisi negara Taiwan sangat buruk ekonominya akibat peperangan

Pada Minggu 12 Desember 2021 relawan Tzu Chi Tangerang mengadakan pelatihan relawan Abu Putih 1 (AP) bertempat di Gedung Aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya Jalan Edutown BSD City Serpong Tangerang Desa Pagedangan, Kec. Pagedangan, Kab. Tangerang, Provinsi Banten.

Kegiatan pelatihan relawan AP ini diikuti oleh 66 relawan AP, 30 orang calon relawan, 5 Tzu Ching yang dibuka dengan menyanyikan lagu Mars Tzu Chi dan dilanjutkan dengan pembacaan 10 Sila Tzu Chi.

Agus Hartono salah satu pengisi materi pelatihan membuka dengan Kisah Master Cheng Yen secara lengkap dan utuh, membuat para relawan teringat kembali dan paham dengan lebih jelas lagi ketika Master Cheng Yen sejak kecil dan diangkat anak oleh paman Master Cheng Yen dalam kondisi Taiwan sangat buruk ekonominya akibat peperangan.

Rita Malia widjaya relawan komite Tzu Chi membawakan Prinsip dan Filosofi Misi amal Tzu Chi dalam bersumbangsih di masyarakat.

Lebih lanjut Agus Hartono menceritakan Jalinan Jodoh antara guru dengan murid yaitu Master Yin Shun, “Demi Ajaran Buddha Demi Semua Makhluk” yang menjadi pegangan hidup Master Cheng Yen.

Agus menjelaskan ada tiga jalinan jodoh Master Cheng Yen dalam hidupnya yaitu kejadian bercak darah seorang ibu yang mengalami keguguran di Rumah sakit di Fenglin, Pembahasan tentang agama dan kehidupan bersama tiga orang suster Katolik, dan jalinan jodoh baik dengan tiga puluh orang Ibu-Ibu rumah tangga untuk terus menetap di Hualien.

Materi pelatihan dilanjutkan dengan menyaksikan tayangan Video tentang kehidupan sehari-hari murid-murid Master Cheng Yen di griya Jing Si, dengan prinsip kemandirian “Sehari tidak bekerja sehari tidak makan”.

“Di He Qi Tangerang lengkap, banyak ladang berkah yang dapat digarap dengan bimbingan ketua He Qi Tangerang Johny Chandrina, Wey Alam, Lily Santoso, dan relawan-relawan komite lainnya, pertahankan niat baik kita”ujar Agus Hartono menutup materinya.

Rensy relawan Komite Tzu Chi membawakan materi tentang Misi Budaya Humanis Tzu Chi tentang cara berpakaian, bertingkah laku, karena keindahan suatu organisasi terletak dalam pengendalian diri masing masing relawannya.

Rita Malia Widjaja pengisi materi dalam pelatihan ini membawakan tema tentang Prinsip dan Filosofi Misi Amal Tzu Chi. Rita menuturkan bahwa Misi Amal Tzu Chi merupakan misi utama dan merupakan akar dari delapan jejak langkah Tzu Chi.

Setiap relawan Tzu berkewajiban menjalankan Misi Amal ini. “Tujuan Misi amal memberikan kebahagiaan dan melepaskan penderitaan dari semua makhluk, harapannya bagi penerima bantuan yang awalnya dengan tangan yang membuka ke atas menjadi tangan yang memberi kebawah, bahkan ada yang bersumbangsih menjadi Relawan” ungkap Rita.

Rita juga menjelaskan lebih dalam tentang Visi Misi Amal berikut foto-foto kegiatan relawan ketika survei bantuan Tzu Chi dan kunjungan kasih pasien penanganan khusus Tzu Chi. Rita menutup sesi sharingnya dengan mengutip kata perenungan Master Cheng Yen yang mengatakan “Segala perbuatan dimulai dari sebuah tekad, bagaikan menanam pohon dari sebuah benih, setiap detik berjuang demi kebajikan”, tutup Rita.

Lain halnya dengan Rensy yang mengisi materi pelatihannya tentang Budaya Humanis Tzu Chi. Rensy mengatakan bahwa citra diri relawan Tzu Chi yang sangat penting. “Kita respek terhadap organisasi Tzu Chi, tentang cara berpakaian, bertingkah laku, dan jenjang kerelawanan. “Pengendalian diri itu harus ada dalam tiap masing-masing relawan karena keindahan suatu organisasi terletak dalam pengendalian diri masing masing relawannya”ucap Rensy menutup sharingnya.

Sesi Sharing Relawan dan Pesan Cinta Kasih

Para peserta pelatihan menjalankan budaya humanis Tzu Chi dengan antri berbaris rapih dan tertib ketika mengambil huan bao (alat makan) pada saat istirahan pelatihan.

Phillip salah satu relawan Tzu Chi dan juga pembina Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi) mengungkapkan terima kasihnya kepada relawan senior Tzu Chi yang telah memberi cinta kasih kepada orang lain. “Gan En kepada Shigu, Shibo (Paman dan Bibi -red) yang telah mempersiapkan acara ini, memberi cinta kasih kepada orang lain, mereka bahagia kita pun bahagia” ujar Philip.

Misi Amal tidak mudah tetapi tidak sulit untuk dilakukan jika kita terbiasa melakukannya. Identitas Tzu Chi harus dijaga dengan baik. “Jangan sampai keindahan organisasi Tzu Chi ini menjadi tidak baik karena segelintir orang”ujar Philip.

Suhanda relawan Abu Putih yang ikut sebagai peserta mengatakan dirinya mudah sekali emosi. Di Tzu Chi Suhanda mencoba untuk melatih diri dengan mengendalikan emosi. “Mulanya gampang sekali saya tersulut emosi, di sini saya mencoba melatih diri mengendalikan emosi.” Ungkap Suhanda.

Edi sheen relawan komite Tzu Chi memulai kembali pelatihan dengan olah tubuh ringan agar semua peserta merasa segar kembali.

Lain halnya dengan Viona, relawan Abu Putih ini sangat aktif di Misi Amal Tzu Chi khususnya bantuan penanganan khusus Tzu Chi. “Saya sekarang aktif di Misi amal, pemohon bantuan yang datang ke Yayasan sejak pandemik ada 71 kasus, tetapi relawan yang terlibat langsung untuk survei makin sedikit, mungkin ada kekhawatiran karena pandemi” ungkap Viona.

Pada sharingnya Viona mengajak seluruh relawan untuk kembali berpartisipasi dalam survei kasus. “Setiap Sabtu ada meeting kasus, relawan baru boleh ikut melalui aplikasi zoom untuk belajar, mudah-mudahan setelah ini banyak yang ikut” harap Viona.

Di penghujung kegiatan pelatihan Wey Alam Wakil Ketua He qi Tangerang dalam sambutan cinta kasihnya mengatakan banyak paparan yang berguna dan bermanfaat dalam pelatihan relawan ini kali. Semoga para relawan dapat menemukan inspirasi dari isi materi dan sharing dari para relawan.

Para peserta pelatihan dan panitia pelatihan berkesempatan untuk berfoto bersama di penghujung acara pelatihan relawan abu Putih bersama peserta Tzu Ching.

“Kita harus berterimakasih kepada Master Cheng Yen karena Beliau kita dapat mempraktikkan dan menggarap ladang berkah di Tzu Chi, kita juga harus bangga karena dalam mempraktekkan kita bisa melihat kebenaran dalam visi misi Tzu Chi” ujar Wey Alam.

Way Alam mengatakan ketika kita melihat kebawah kita dapat bersyukur, ketika kita melihat mereka bersukacita kita pun merasakan kehangatan akan kebahagian hati kita. Pelatihan relawan di Tzu Chi berguna untuk mengikis kekotoran batin. “Mari kita mengingatkan satu sama lain, menjaga perilaku sikap kita, jadikan kebiasaan tata krama di Tzu Chi menjadi kebiasaan dalam keseharian kita di luar Tzu Chi” ajak Wey Alam.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Pelatihan Relawan Biru Putih 2015: Memikul Tanggung Jawab Menjadi Benih Tzu Chi

Pelatihan Relawan Biru Putih 2015: Memikul Tanggung Jawab Menjadi Benih Tzu Chi

12 Oktober 2015 “Saat saya berkesempatan untuk bertemu dan sharing dengan Master Cheng Yen, saya bercerita bahwa di Bireuen kami belum punya kantor dan belum pernah ada kegiatan Tzu Chi. Master Cheng Yen mengangguk-angguk dan berpesan bahwa saya harus pulang dengan membawa benih Tzu Chi untuk Bireuen,” kisahnya. Pesan itu sulit hilang dari ingatan Teo Siau Pieng yang akhirnya membuatnya bertekad menciptakan Tzu Chi di Bireuen, Aceh.
Pelatihan Relawan: Saling Menyemangati, Saling Belajar, dan Saling Mendukung

Pelatihan Relawan: Saling Menyemangati, Saling Belajar, dan Saling Mendukung

29 Juni 2020

Sutra ibarat sebuah jalan yang telah dibabarkan oleh guru. Dan hendaknya para murid melatih diri untuk berjalan di jalan yang telah dibentangkan guna membantu semua mahkluk terlepas dari penderitaan.

Pelatihan Relawan Biru Putih: Menjaga Batin dan Kelembutan Hati

Pelatihan Relawan Biru Putih: Menjaga Batin dan Kelembutan Hati

13 Oktober 2015

Dulu, Hong Evie merupakan wanita yang keras dan penuh amarah. Kesulitan hidup yang dia alami membuatnya bertemu dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Siapa sangka, wanita yang dulu ringan tangan kepada anaknya kini tergerak menjadi relawan hingga dilantik menjadi relawan berseragam biru putih pada Minggu 11 Oktober 2015. Hubungannya dengan anak tunggalnya Yena juga menjadi lebih harmonis.

Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -