Kebahagiaan Seorang Sulastri

Jurnalis : Leo Samuel Salim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Leo Samuel Salim, Dinarwaty (Tzu Chi Medan)
 
 

foto Sulastri dan suaminya Ilias menyambut kebahagiaan kembalinya penglihatan bagi Sulastri setelah mengikuti baksos katarak Tzu Chi di Medan.

“Pak, kok jadi jelek mukamu?” itulah kata-kata pertama dari Sulastri (68) kepada Ilias, suaminya setelah perban matanya dibuka. Perkataan tersebut langsung mengundang gelak tawa dari orang-orang yang ada di sampingnya. Wajah Ilias pun menjadi merah padam, bukan karena marah tetapi malu. Rasa malu yang bercampur bahagia dan haru ini membuat air mata Ilias serta merta berlinang dan mengucapkan syukur kepada Yang Kuasa karena istrinya yang tercinta sudah dapat melihat kembali.

Penglihatan Sulastri mulai memburuk sejak 6 tahun yang lalu dan 2 tahun terakhir ini, semuanya menjadi gelap. Kira-kira 2 bulan yang lalu, hari sudah senja dan Ilias terlambat pulang ke rumah. Mendengar Adzan Maghrib, Sulastri mencoba untuk menyalakan lampu dinding. Tak disangka setelah lampunya menyala, batang korek api yang sedang menyala terjatuh di atas tumpukan kertas dan menyebabkan kebakaran kecil. Sulastri yang tidak dapat melihat tetapi dapat merasakan panasnya api itu hanya dapat berteriak minta tolong dan terduduk karena panik. Mendengar teriakan istrinya dari kejauhan, Ilias pun terpontang-panting bergegas pulang ke rumahnya. “Jarak api dengan badannya itu hanya 1 meter. Langsung aku angkat dia ke tempat yang aman,” cerita Ilias. Ilias sendiri terkena luka bakar di bagian tangan dan dada karena mencoba membuang pot bunga plastik yang terbakar. Untung luka bakar itu lekas sembuh dan tidak berbekas karena Ilias langsung menyiramkan minyak tanah ke tubuhnya.

Jauh sebelum menikah dengan Ilias, Sulastri pernah mengangkat seorang anak laki-laki. Tetapi maut menjemput anak semata wayangnya itu karena overdosis obat-obatan terlarang. Dan selama 18 (delapan belas) tahun mereka berdua berumah tangga, mereka belum juga dikaruniai anak. Karenanya mereka berdua pun saling melengkapi satu sama lain. “Dulu di mana ada saya, pasti ada dia (Sulastri -red). Kami sama-sama cari kayu bakar. Tetapi sejak matanya ngga bisa melihat, dia hanya diam di rumah saja,” cerita Ilias mengenang kebersamaannya dengan Sulastri. “Kalau sudah dapet ranting kayu yang jatuh, saya belah dan potong. Dia-lah yang ngikat,” tambahnya. Penghidupan sepasang orang tua ini digantungkan pada penjualan kayu bakar ini. Seikat kayu bakar yang dijual ke kedai-kedai di sekitar kampungnya adalah Rp 500,00. Paling banyak kayu bakar yang terjual hanya sekitar 30 (tiga puluh) ikat per hari. “Terkadang, ya, pulangnya tangan kosong (tidak terjual sama sekali -red),” ujar Ilias.

foto    foto

Keterangan :

  • Dengan sabar dan setia, Ilias senantiasa mendamping Sulastri menunggu giliran diperiksa oleh tim medis. Pada baksos sebelumnya di Tebing Tinggi, Sulastri batal dioperasi karena ia salah mengingat hari. (kiri)
  • Sehari setelah dioperasi, relawan dan tim medis membuka perban mata Sulastri dan memeriksa keberhasilan operasi katarak tersebut. (kanan)

Harapan Kedua
Ada yang melatarbelakangi kenapa Sulastri harus jauh-jauh ke Medan untuk mengikuti bakti sosial operasi katarak. Sulastri adalah pasien yang terdaftar pada bakti sosial operasi katarak di Tebing Tinggi tanggal 27-28 November 2010 lalu. “Dia (Sulastri -red) bilang tanggal 27 itu hari Minggu (seharusnya hari Sabtu -red). Ya, saya bawa pergi ke rumah sakit umum hari Minggunya, eh, salah hari. Operasinya udah selesai kemarinnya,” ujar Ilias. Sesampainya di rumah, Sulastri terus menangis karena menyesal. Tetapi pada tanggal 3 November 2010 lalu, relawan Tzu Chi Tebing Tinggi mengunjungi rumahnya dan menyampaikan agar Ilias membawa Sulatri ke kota untuk diperiksa tekanan darah dan kadar gula darahnya. Kalau lulus, maka diperbolehkan untuk mengikuti bakti sosial operasi Katarak di Medan. “Ternyata hasilnya kata dokternya, bagus!” tambahnya.

Tanggal 4 Desember 2010, jam 5.00 WIB, Ilias bersama Sulastri berangkat dari rumahnya menuju ke RSUD Dr. Kumpulan Pane dimana semua pasien yang akan diberangkatkan ke Medan harus berkumpul. Setelah semuanya berkumpul, maka 8 orang pasien beserta 3 orang relawan menuju ke Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM) Medan. Dengan kondisi yang tertatih-tatih dan didampingi Ilias beserta relawan, mereka memasuki ruang pemeriksaan. Dan setelah dinyatakan baik dari tim medis, maka Sulastri dapat dioperasi. Pendengaran Sulastri yang juga kurang peka membuat relawan dan tim medis harus lebih bersabar. Setelah operasi selesai, Sulastri dibawa ke ruang pemulihan. Di ruang ini, Ilias tidak pernah meninggalkan istrinya  dan memastikan kondisinya dalam keadaan baik. Dengan sabar pula, Ilias menyuapi istrinya dan memberinya minum.

foto  foto

Keterangan :

  • Dengan penuh harapan agar dapat melihat kembali, satu persatu pasien yang telah menjalani operasi katarak diantar oleh para relawan ke ruang pemulihan.  (kiri)
  • Sulastri bersiap untuk pulang ke kampungnya dan berharap dapat melakukan kegiatan kesehariannya kembali bersama suaminya Ilias. (kanan)

Keesokan harinya, semua pasien yang berjumlah 19 (Sembilan belas) orang berkumpul kembali di BKIM untuk diperiksa matanya. Dari ke-19 orang tersebut ada 6 (orang) yang dioperasi kedua matanya, termasuk Sulastri. Satu per satu perban mata dibuka oleh perawat dan kemudian dibawa ke ruang pemeriksaan untuk diperiksa tingkat keberhasilan operasinya. Setelah itu, semua pasien beserta anggota keluarganya berkumpul untuk mendengarkan pengarahan dari tim medis mengenai semua hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama tahap pemulihan ini.

Waktu beranjak siang, semua pasien sudah mendengarkan penyuluhan dan telah dilakukan pemeriksaan mata pascaoperasi. Setelah mengetahui kapan akan dilakukan pemeriksaan ulang, merekapun bersiap-siap untuk pulang. Tampak wajah-wajah bahagia terpancar dari setiap pasien dan anggota keluarganya. Keindahan dunia kini terpampang di depan mata.

  
 

Artikel Terkait

Kebesaran Hati Vera

Kebesaran Hati Vera

08 Mei 2012 Bencana yang menimpanya memang pernah menjadikannya lemah, namun dari kelemahan yang dia miliki dia dapat membuktikan bahwa kemandirian dapat dia bentuk untuk melanjutkan kehidupannya, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Memupuk Kekompakan Melalui Perlombaan Kreasi Mi DAAI

Memupuk Kekompakan Melalui Perlombaan Kreasi Mi DAAI

19 Agustus 2024

Dalam rangka Bulan Tujuh Penuh Berkah dan untuk mensosialisasikan pola hidup vegetarian, Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Tebing Tinggi mengadakan kegiatan Perlombaan Memasak dan Kreasi dengan Mi DAAI.

Relawan Tzu Chi Sibuk Persiapkan Lebaran

Relawan Tzu Chi Sibuk Persiapkan Lebaran

05 Juni 2017
Kesibukan dalam mempersiapkan diri untuk menyambut Idul Fitri tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi pun merasakan kesibukan yang hampir sama. Mereka berkeliling ke perkampungan warga dan membagikan kupon bingkisan lebaran.
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -