Kelas Budi Pekerti: Mendidik dengan Cinta Kasih

Jurnalis : Lina K. Lukman (He Qi Pusat), Fotografer : Ciu Yen (He Qi Pusat), Tan Surianto (He Qi Utara)
 
 

foto
Sebanyak 270 anak (setingkat kelas 3 - 6 sekolah dasar)mengikuti Kelas Budi Pekerti Tzu Chi pada Minggu, 3 Maret 2013.

“Indahnya satu kesatuan terletak pada kepribadian yang ditampilkan oleh setiap individunya”
(kata perenungan Master Cheng Yen).

 

 

Pertemuan kedua Kelas Budi Pekerti Tzu Chi (Er Tong Ban) yang diadakan setiap sebulan sekali ini dilaksanakan tanggal 3 Maret 2013 hari minggu. Sekitar jam 7.30 pagi lantai 2 Aula Jing Si PIK, sudah terlihat ramai oleh sekitar 50 orang relawan yang melayani para orang tua dan 270 orang anak, terdiri dari siswa Sekolah Dasar kelas 3 sampai dengan kelas 6 yang akan mengikuti kelas budi pekerti ini.

Zhu zu, Gan en, Shan jie, Bao rong, Xin xin, Yi li, Yong qi, dan Jing jin adalah 8 nama grup yang ada di kelas bimbingan budi pekerti Tzu Chi dan terbagi lagi menjadi 2, seperti Zhu zu 1 dan Zhu zu 2. Terlihat 16 grup sudah berbaris rapi dan terdapat 2 orang relawan di setiap grup yang menjadi Da Ai Mama ataupun Da Ai Papa yang mendampingi sekitar 7 atau 8 orang anak. Pukul 8 tepat semua peserta masuk dengan tertib ke ruang Fu Hui Ting (Ruang kebaktian) yang menjadi tempat dilaksanakannya kelas budi pekerti ini. Dimulai dengan memberikan hormat kepada Master Cheng Yen, lalu agar kelas dapat berjalan dengan lancar, diberitahukan terlebih dahulu tentang peraturan di dalam kelas yang harus diikuti oleh setiap siswa.

foto  foto

Keterangan :

  • Siswa diajak untuk menyanyikan lagu Tian Ti Hao Xiang Da Ke Tang (Langit dan Bumi Bagaikan Sebuah Kelas Besar) (kiri).
  • Siswa juga diajarkan tata krama yang meliputi cara berpakaian dan juga rambut, lalu postur tubuh dan tangan disaat berdiri seperti fang zhang (tangan berposisi samadhi) dan he zhang (bersikap anjali) (kanan) .

“Keindahan Tata Krama” yang menjadi tema pada pertemuan kali ini di bawakan oleh Mei Rong Shijie, relawan komite yang sudah lama mendampingi para siswa budi pekerti dan menjadi Da Ai mama. Kemudian beliau mengajak semua siswa untuk menyanyikan lagu “Tian  Ti  Hao  Xiang  Da  Ke  Tang” (Langit dan Bumi Bagaikan Sebuah Kelas Besar) yang menceritakan tentang semua makhluk seperti teman sekolah dan sesama teman haruslah saling menyayangi dan menghormati, saling mengalah dan belajar, juga saling membantu.

Setelah itu Mei Rong Shijie melanjutkan pelajaran tentang indahnya bertata krama budaya humanis, di mana anak-anak diajarkan tentang kerapian dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari. Tata krama ini meliputi cara berpakaian dan juga rambut, lalu postur tubuh dan tangan disaat berdiri seperti fang zhang (tangan berposisi samadhi) dan he zhang (bersikap anjali), kemudian diajarkan juga bagaimana melakukan 3 kali penghormatan serta da shou yin (打手印) (posisi tangan membentuk mudra untuk memberi salam hormat), dan sikap serta cara berjalan.

foto  foto

Keterangan :

  • Setiap anak laksana sebutir berlian, bila mereka dibesarkan dan juga dididik dengan penuh cinta kasih, maka mereka akan bersinar dengan terang, seperti terangnya matahari yang menyinari bumi (kiri) .
  • Selain mengikuti pelajaran di dalam kelas, anak-anak juga diajarkan tata karma di dalam ruang makan yang dilakukan di luar kelas (kanan) .

Selain mengikuti pelajaran di dalam kelas, anak-anak juga diajarkan tata krama di dalam ruang makan yang dilakukan di luar kelas. Sesi pelajaran kali ini di bawakan oleh Rosvita (Yen Ling) Shijie yang memang adalah seorang relawan misi pendidikan Tzu Chi. Dengan gaya khasnya yang ramah, beliau membagikan pengetahuan tentang bagaimana bersikap di meja makan. Dimulai dari posisi ketika hendak duduk, kemudian cara menaruh peralatan makan, bagaimana cara megang mangkuk dan sumpit yang benar, lalu setelah selesai makan maka peralatan makan disimpan kembali, serta cara bangun dan keluar dari meja makan tanpa menimbulkan suara.

Setelah 3 jam mengikuti pelajaran teori di dalam dan luar kelas, tibalah saatnya untuk mempraktekkan apa yang sudah diajarkan. Dengan dipandu oleh para Daai mama dan Daai papa, semua siswa berbaris dengan rapi dan mulai berjalan ke ruang makan yang berada di lantai dasar. Di ruang makan ini terlihat bagaimana setiap siswa melakukan apa yang telah diajarkan tadi dengan baik. “Meski mereka masih kecil tapi sebenarnya kita yang belajar dari mereka ini. Bagaimana cara kita melakukan pendekatan adalah dengan belajar untuk menyelami dan mengenal mereka lebih dalam,” ujar Swie Fong Shijie salah seorang Daai mama yang mendampingi siswa di grup Bao Rong 1.

Dari penuturan yang diberikan oleh Yen Ling Shijie kepada saya, bahwa misi pendidikan budi pekerti Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sudah berjalan sejak tahun 2006 dan sekarang ini Er Tong Ban sudah masuk angkatan ke-8 dan bila selama setahun penuh siswa memenuhi pelajarannya maka di akhir tahun akan diberikan sertifikat. “Anak-anak memang mempunyai sifat mereka sendiri, tetapi tentu masih dalam batas yang wajar. Karena itu di sini kita mengajarkan bagaimana bersikap sopan dan tertib, bisa bekerja sama, berbakti kepada orang tua, bersyukur dan perduli serta mau membantu orang lain,” tutur Yen Ling Shijie. Setiap anak laksana sebutir berlian, bila mereka dibesarkan dan juga dididik dengan penuh cinta kasih maka mereka akan bersinar dengan terang, seperti terangnya matahari yang menyinari bumi.

  
 

Artikel Terkait

Guru dan Orang Tua Siswa Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng Bagikan 200 Paket Sembako

Guru dan Orang Tua Siswa Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng Bagikan 200 Paket Sembako

17 Januari 2022

Relawan Tzu Chi Indonesia bersama orang tua murid dan guru Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng membagikan 200 paket sembako kepada penerima bantuan Tzu Chi.

Belajar dari Kunjungan Kasih

Belajar dari Kunjungan Kasih

20 April 2017

Minggu, 16 April 2017 oleh 26 relawan dan sukarelawan Tzu Chi Pekanbaru mengunjungi Panti Tresna Werdha (Jompo) Khusnul Khotimah yang terletak di jalan KH. Nasution, Pekanbaru

Mengubah Gelap Menjadi Terang

Mengubah Gelap Menjadi Terang

14 Desember 2023

Kebahagiaan dirasakan 10 pasien katarak dan pterygium yang merupakan warga Desa Sumber Makmur. Setelah bertahun-tahun menderita karena penglihatan yang terganggu, sekarang sudah bisa melihat dengan jelas. 

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -