Menggugah Hati Masyarakat Untuk Bersatu Membantu Sesama

Jurnalis : Teddy Lianto, Philip Zhang (He Qi Barat 1), Fotografer : Dok. He Qi Barat1

Sebanyak lebih kurang 750 orang hadir dalam acara Ramah Tamah Imlek dan Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi He Qi Barat 1

Pada Minggu, 16 Februari 2025 pukul 13.30 WIB, relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Barat 1 mengadakan acara ramah-tamah Imlek dan pemberkahan akhir tahun (PAT) 2024. Acara ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas tahun yang telah dilalui dengan baik dan lancar, serta mengawali tahun baru 2025 dengan doa positif dan semangat untuk menjalani hidup dengan sukacita. Sebanyak 750 peserta dari masyarakat umum dan berbagai organisasi sosial hadir memeriahkan acara tersebut. Para peserta hadir untuk merayakan momen penting ini bersama, mempererat hubungan, dan berbagi kebahagiaan. Acara ini menciptakan suasana yang hangat dan penuh harapan untuk tahun yang baru.

Salah satu organisasi tersebut adalah Indonesia Vegetarian Society (IVS), organisasi vegetarian terbesar di Indonesia yang datang memeriahkan acara. Go Erwin, relawan IVS merasa bersyukur diundang dalam acara ini. “Ini pertama kali saya datang ke Tzu Chi. Merasa sangat luar biasa, acaranya pendek (waktunya) tapi padat (informasi),” tuturnya penuh senyum.

Erwin Go (baju oranye berkacamata), relawan Indonesia Vegetarian Society merasa bersyukur diundang dalam acara penuh makna ini.

Erwin juga tersentuh dengan kegiatan sosial Tzu Chi yang terus berkelanjutan membantu masyarakat kurang mampu. “Kami tersentuh dan terharu, Tzu Chi merangkul banyak masyarakat yang memiliki perekonomian di bawah untuk mendapatkan hak untuk bersekolah, berobat, dan menjaga lingkungan. Dari hal ini, kami juga belajar untuk dapat merangkul lebih banyak relawan,” sambungnya. Erwin pun mendoakan semoga kegiatan Tzu Chi terus bergulir meringkan penderitaan masyarakat marginal.

Jeanne Laksana (ke- 6 dari kanan) salah seorang pengarang dari Perhimpunan Pengarang Tionghoa Indonesia, datang bersama rekan-rekannya dan merasa senang bisa menyaksikan langkah bodhisatwa Tzu Chi di Indonesia.

Selain itu, perhimpunan pengarang Tionghoa Indonesia yang tertarik dengan sepak terjang sosial Tzu Chi merasa bersyukur dengan adanya acara PAT ini mereka bisa berkunjung dan mengenal Tzu Chi untuk pertama kalinya. “Saya sangat terharu karena ketika mengadakan Konferensi Internasional Penulis Seluruh Dunia yang dihadiri oleh 18 negara, mereka memberikan masukan ke saya agar berkunjung ke Tzu Chi. Tetapi karena saya tidak mengenal relawan Tzu Chi jadi tidak bisa datang ke sini,” ujar Jeanne Laksana, salah satu dari 70 orang pengarang Tionghoa yang hadir dalam acara. Jeanne pun takjub dengan keramahtamahan relawan dalam membimbing peserta acara masuk ke ruangan. “Mereka (relawan) penuh sopan santun. Hal ini yang saya rasa sangat bagus karena bisa ditiru dan diteladani oleh anak muda generasi sekarang,” jelasnya.

Jeanne juga menuturkan banyak pengarang Tionghoa yang menetap di Aceh terkagum dengan perhatian relawan Tzu Chi ketika bencana tsunami melanda di 2004. “Kami (para pengarang Tionghoa) kerap menuliskan catatan sejarah yang humanis ini ke dalam karya tulisan kami, untuk menyebarkan lebih banyak nilai positif terutama kegiatan Tzu Chi untuk masyarakat,” ungkapnya dengan penuh senyum.

Irawati, Ketua He Qi Barat 1 memaparkan kegiatan Tzu Chi Barat 1 ke para hadirin.

Jalinan Jodoh baik dengan lebih banyak orang melihat antusias masyarakat yang hadir dalam acara, Irawati, ketua He Qi komunitas Barat 1 merasa sangat berbahagia dan terharu. Ira pun mengajak masyarakat yang hadir untuk mau bergabung menjadi relawan mengingat hingga saat ini sudah ada 117 penerima bantuan dan 71 anak asuh (bantuan pendidikan) yang harus didampingi.

“Di Tzu Chi kami tidak hanya memberikan bantuan secara materi, tetapi kita juga mencoba mendampingi, mengedukasi, dan penyuluhan kepada mereka hingga suatu saat nanti mereka bisa mandiri,” jelasnya. Ira pun mencontohkan pendampingan anak asuh yang kemudian mereka sebut sebagai anak teratai yang telah dilaksanakan dari tahun 2022 hingga saat ini sudah memberikan harapan baru untuk anak-anak untuk dapat bermimpi dan meraih cita-cita yang lebih tinggi.

“Saya melihat langsung perubahan dari anak-anak terata dari yang awal pendampingan mereka (anak-anak) seperti tidak ada semangat hidup, tetapi setelah melalui pendampingan baik itu melalui kelas belajar, anak-anak perlahan menyadari jika mereka punya harapan hidup yang lebih baik dan bisa kembali ceria serta senyum yang penuh bahagia,” ucap Ira dengan penuh bahagia.

Stan Nymphaea yang menjual tas-tas menarik dan modis hasil kreasi dari bahan jeans yang di daur ulang.

Franky dan Lily Brahma, selaku pendamping anak asuh juga memaparkan beberapa program yang telah mereka jalankan seperti kelas story telling dalam bahasa inggris, kelas enterpreneur (membuat karya yang bisa dijual kembali) dan cara untuk memasarkannya serta kelas membuat barang tidak berguna untuk diolah menjadi barang layak guna dan bernilai jual. “Di 2022, kami buka dua kelas bahasa inggris dan entrepreneur yang kemudian di tahun 2023 kami lanjutkan dengan festival teratai dimana anak-anak teratai dilombakan sesuai kelas yang mereka pilih. Dari lomba ini muncullah produk Nymphaea (dibaca: nimfea),” jelas Lily Brahma.

Franky menjelaskan lebih lanjut jika produk Nymphaea adalah produk dari celana jeans yang tidak terpakai yang kemudian diolah menjadi barang layak pakai dan bernilai jual, seperti tas. “Ini kolaborasi anak teratai yang menciptakan ide, berjumpa dengan penerima bantuan yang membantu menjahit, dan relawan tzu Chi yang membantu menggalang celana jean yang tidak terpakai untuk diolah kembali,” papar franky.

Menutup acara, Ira pun memaparkan beberapa cuplikan dan sharing yang telah dipaparkan merupakan langkah konkrit Tzu Chi komunitas He Qi Barat 1 semoga hal ini bisa menggugah hati masyarakat untuk ikut bergabung dalam kegiatan positif ini. Terus Membentangkan Jalan Bodhisatwa Paparan singkat dari relawan Tzu Chi di PAT memberikan nuansa harmoni nan hangat di hati para pengunjung.

Seperti halnya, Rita, ibu rumah tangga yang tinggal di daerah Pantai Indah Kapuk, jakarta utara. Rita menjelaskan bahwa dirinya sudah mengenal mengenai Tzu Chi satu dasawarsa lalu dan pernah bergabung dalam gerakan bervegetaris. Rita pun mengapresiasi kegiatan PAT ini mengingat acara ini semakin mempererat rasa persaudaraan di Indonesia.

“Acara hari ini cukup bagus, membangun rasa keperdulian sesama umat. Diakhir acara juga sangat gembira sekali, mendapat angpao dari Master Cheng Yen, jadi memperat satu persatuan, tidak memilih-milih agama juga. Harapan saya semoga budha tzu chi ini biar makin besar karena sangat membantu orang orang yang membutuhkan bantuan kita semua, biar bersatu semua bangsa,” harapnya.

Thomas Edison yang datang bersama keluarganya, merajut jodohnya lebih dalam dengan Tzu Chi.

Hal yang serupa dirasakan oleh Thomas Edison, warga Cengkareng. Ia sudah mengenal Tzu Chi sejak 6 tahun lalu melalui sahabatnya yang akhirnya membuat dirinya menonton DAAI TV yang merajut jodohnya lebih dalam dengan Tzu Chi dengan mulai ikut berkegiatan di kegiatan bakti sosial. Ia pun mengacungkan kedua jempolnya untuk acara hari ini, mengingat dirinya kerap datang di setiap PAT yang diadakan Tzu Chi.

“Untuk yang tahun ini ya konsepnya mungkin agak beda dari tahun-tahun sebelumnya dan menurut saya lebih mengena ya yang kali ini, karena tidak terlalu crowded yang kaya tahun tahun sebelumnya gitu, nah jadi ini apa lagi ada acara acara yang kaya gini ramah tamahnya ini bagus banget sih,” ucapnya pasti. Thomas pun selalu gembira mendapat angpao dari Master Cheng Yen. “kalau angpao sih menurut saya satu berkah, dikasi kesempatan, terus apalagi saya sih sebenernya sih saya punya kisah sendiri dimana saya pernah mengalami serangan jantung tetapi saya masih beruntung tahun ini diberikan kesempatan untuk bisa hadir dengan keluarga, untuk mengikuti acara ini,” jelasnya dengan penuh suka cita.

Thomas pun berharap acara ini dapat terus bergulir setiap tahunnya. “Mungkin buat yang belum kenal jadi kenal lebih kenal lebih deket lagi, karena menurut saya sih, untuk organisasinya visi misinya sangat jelas, jadi sangat-sangat istilahnya membantu orang lain. itu tetap harus dilaksanakan setiap tahun,” ujar Thomas penuh harapan agar makin banyak masyarakat bisa bergabung ke Tzu Chi sehingga jalan bodhisatwa makin terbentang dan masyarakat semakin sadar.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

PAT 2025: Memetik Pelajaran Berharga dari Tiga Kisah yang Penuh Makna

PAT 2025: Memetik Pelajaran Berharga dari Tiga Kisah yang Penuh Makna

11 Februari 2025

Pemberkahan Awal Tahun 2025 yang diselenggarakan Tzu Chi Indonesia memberikan banyak inspirasi dari kisah kesungguhan dan ketulusan para relawan Tzu Chi di masyarakat.

PAT 2025: Menjadi Cahaya Bagi Sesama Melalui Jalan Bodhisatwa

PAT 2025: Menjadi Cahaya Bagi Sesama Melalui Jalan Bodhisatwa

09 Februari 2025

Momen penuh makna kembali tersaji di Aula Jing Si Indonesia (9 Februari 2025), dalam Pemberkahan Awal Tahun 2025. Sebanyak 2.158 peserta yang terdiri dari relawan, staf badan misi, serta donatur, larut dalam suasana kekeluargaan. 

Pemberkahan Akhir Tahun 2024: Persamuhan Dharma Memperkokoh Tekad di Jalan Bodhisatwa

Pemberkahan Akhir Tahun 2024: Persamuhan Dharma Memperkokoh Tekad di Jalan Bodhisatwa

22 Januari 2025

Tzu Chi Pekanbaru mengadakan Persamuhan Dharma sekaligus Pemberkahan Akhir Tahun 2024 bagi relawan pada Sabtu, 11 Januari 2025. Kegiatan ini dihadiri 175 relawan.

Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -