Menjernihkan Alam dan Batin dengan Pelestarian Lingkungan

Jurnalis : Yuliawati Yohanda (Tzu Chi Tangerang) , Fotografer : Binawan, James, Vivi, Wanda, Yuliawati (Tzu Chi Tangerang)

Irawaty menjelaskan tentang 1 hari 5 kebajikan untuk menolong bumi.

Komunitas He Qi Tangerang kembali mengadakan Pelatihan Abu Putih yang ke-3 pada Minggu 23 Juli 2023. Pelatihan ini digelar di Ruang Xi She Ting, Aula Jing Si, PIK, Jakarta Utara. Sukandi, yang kali ini bertugas sebagai MC membuka acara dengan mengajak peserta menyanyikan Mars Tzu Chi, dilanjutkan dengan pembacaan 10 Sila Tzu Chi.

Tema Pelatihan kali ini adalah “Menjernihkan Alam dan Batin dengan Pelestarian Lingkungan.” Irawaty Hendrawan mengisi sesi pertama dengan membahas secara lengkap apa itu filosofi dan prinsip pelestarian lingkungan beserta metodenya. Misi Pelestarian Lingkungan merupakan turunan dari Misi Pendidikan karena ada sisi edukatifnya. Misi Amal karena sampah bisa didaur ulang dan dijual hasilnya, uangnya untuk membantu biaya pendidikan anak asuh dan digunakan untuk menjalankan misi amal seperti santunan kepada Gan En Hu (Penerima Bantuan) dan Misi Kesehatan juga.

Sesuai dengan Motto Daur Ulang Tzu Chi yaitu “Sampah menjadi Emas, Emas Menjadi Cinta Kasih, Cinta Kasih akan Menyebar keseluruh pelosok Dunia.” Lebih lanjut ia juga menjelaskan tentang penyebab gas rumah kaca yaitu karena perilaku manusia, penumpukan sampah, penebangan hutan, penggunaan bahan bakar fosil (BBM), peternakan. Efek buruk gas rumah kaca bagi kehidupan menyebabkan perubahan iklim, kerusakan ekosistem laut, naiknya permukaan air laut (akibat es di kutub mencair karena global warming), perubahan ekologis dan dapat mengganggu stabilitas negara. 

Aifen (Fenny) dan Dessy (menunjuk mangkok) sedang mengajarkan Budaya Humanis Tzu Chi di antaranya tata krama saat makan.

Pada tahun 1990, Master Cheng Yen berpidato di Taichung tentang “Hidup yang penuh berkah,“ yang mana tangan yang bertepuk tangan sebaiknya digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat yaitu melakukan pelestarian lingkungan; memilah sampah daur ulang. Master Cheng Yen juga menyerukan 5 Perubahan di pelestarian lingkungan yaitu; peremajaan PL (menggalang usia muda tidak hanya relawan Pelestarian Lingkungan (Lao Pu sa) saja seperti sebelumnya, akan tetapi juga generasi Z seperti Tzu Ching yang terdiri dari anak-anak muda sebagai generasi penerus Tzu Chi). Perubahan lainnya adalah Pola Hidup Ramah Lingkungan, Pengetahuan tentang PL, Keluarga Ramah Lingkungan dan Pelestarian Batin seperti bertutur kata yang baik, bertekad yang baik.

Irawaty juga menjelaskan tentang 1 hari 5 kebajikan untuk menolong bumi, seperti menghemat air, menggunakan alat makan sendiri, bervegetaris karena kotoran hewan di banyak peternakan mengandung gas metana yang penyumbang efek gas rumah kaca, menghemat energi, menggunakan transportasi umum karena BBM juga dari bahan bakar yang berasal dari Fosil yang menyebakan efek gas rumah kaca.

Keindahan tampak saat para relawan berjalan bersama.

Irawaty juga mengingatkan untuk melakukan 5 R. Prinsip 5R dapat dilakukan melalui pengurangan pemakaian material mentah dari alam (Reduce) melalui optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali (Reuse) dan penggunaan material hasil dari proses daur ulang (Recycle) maupun dari proses perolehan kembali (Recovery) atau dengan melakukan perbaikan (Repair).

Misi Pelestarian Lingkungan (PL) bukan menitikberatkan kepada berapa banyak dana yang terkumpul tetapi pada kesadaran dalam melestarikan lingkungan. Metode yang digunakan adalah 1-3-5 yaitu 1 ; memakai keran air seperti angka 1, 3 yaitu menghormati kehidupan dengan bervegetaris, 5 yaitu membawa 5 pusaka kemanapun pergi (alat makan sumpit, wadah makan, saputangan, botol minum, tas ramah lingkungan).

Para peserta yang hadir dari berbagai Xie Li di Tangerang mengikuti gerakan para relawan komite yang mengucapkan WÇ’ Chéngdān yang artinya saya bersedia mengemban tanggung jawab.

Menjaga Tekad dan Semangat dalam Memikul Tanggung Jawab di Tzu Chi
Sesi kedua ada talkshow dengan tema menjaga tekad dan semangat dalam memikul tanggung jawab di Tzu Chi. Talkshow ini dimoderatori Rita Malia Widjaya dengan mengajak dua pasang suami istri yang selalu setia beriringan melangkah di jalan Bodhisatwa. Mereka adalah Johansen Anggi dan Tjai Ing, juga Jankie dan Yuliana Pundarika. Mereka menceritakan awal mula menjalin jodoh dengan Tzu Chi dan bagaimana menyiasati kendala dan permasalahan yang dihadapi ketika berkegiatan di Tzu Chi.

Talkshow inspiratif dengan judul Menjaga Tekad dan Semangat dalam Memikul Tanggung Jawab di Tzu Chi.

Keistimewaan kedua pasangan relawan Tzu Chi ini adalah sama-sama waktunya ketika  bergabung dengan Tzu Chi dan sama-sama pula waktunya ketika dilantik Master Cheng Yen menjadi relawan komite pada 23 Juni 2023 lalu di Jing Si Hall, Hualien, Taiwan.

Tjai Ing awal bergabung dengan Tzu Chi saat menjadi Da Ai Mama, yakni relawan di misi pendidikan. Sebelumnya, kedua anaknya telah bergabung di kelas Budi Pekerti. Mulanya ia hanya mengantar jemput anaknya saja sembari menikmati café-café yang berjejer di Pantai Indak Kapuk. Ketika mulai merasa jenuh, ia pun berinisiatif untuk bergabung menjadi Da Ai Mama dan melakukan banyak kegiatan lainnya hingga dilantik menjadi relawan komite.

Ketua He Qi Tangerang, Johnny Chandrina memberikan pesan cinta kasih, vahwa Tzu Chi adalah tempat melakukan kebajikan. Tzu Chi adalah tempat melatih diri.

Sampai saat ini terus berkegiatan Tzu Chi, Tjai Ing tak menemui kendala berarti. “Karena selalu membawa kue bolu,” seloroh Tjai Ing.  

Adapun perubahan yang terjadi pada diri Tjai Ing, yang semula mengikuti lima arisan kini hanya arisan tetangga saja karena masih tinggal di lingkungan tersebut dan hanya untuk tetap menjalin silaturahmi. Dulu Tjai Ing sangat diktator karena merasa sebagai “Queen at home” sekarang hubungan dengan kedua anaknya bagai kakak dan adik saja.

Foto bersama seluruh tim panitia dan peserta pelatihan Abu Putih.

Berbeda dengan pasangan Jankie dan Yuliana, mereka mengetahui Tzu Chi dari tayangan DAAI TV sejak tahun 2009. Meski menemui banyak tantangan dan kendala dalam beraktivitas sebagai relawan, namun tidak menyurutkan langkah mereka. Mereka tidak mudah goyah dan meninggalkan jalan Bodhisatwa begitu saja karena fondasi mereka sudah kuat dengan selalu mendengarkan ceramah Master Cheng Yen.

Yuliana pun merasa sangat bersyukur bisa dilantik langsung oleh Master Cheng Yen. “Karena kesempatan itu tidak mudah, bahkan ada yang ketika saatnya tiba malah ketidakkekalan datang duluan,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Internasional: Distribusi dan Pelatihan Relawan

Internasional: Distribusi dan Pelatihan Relawan

19 Juli 2010
Tanggal 26 Juni  2010, tepat pukul 09.45 pagi, tim relawan dari Amerika Serikat dan 18 relawan lokal mulai mempersiapkan 400 kantong barang, termasuk beras, minyak, gula, kacang, bubuk jagung, dan mi instan.
Menggenggam Jalinan Jodoh dalam Pelatihan Relawan Tzu Chi

Menggenggam Jalinan Jodoh dalam Pelatihan Relawan Tzu Chi

25 Mei 2022

Baksos pembagian sembako yang digelar Tzu Chi Tebing Tinggi beberapa waktu lalu menjadi sebuah pintu yang mengantar jalinan jodoh sukarelawan yang saat itu ikut bersumbangsih, kini bertekad menjadi relawan Tzu Chi.

Mengukuhkan Tekad dan Semangat Para Relawan

Mengukuhkan Tekad dan Semangat Para Relawan

08 Desember 2020
Sebanyak 96 relawan Abu Putih He Qi Pusat berkumpul secara daring, Minggu, 29 November 2020. Mereka mengikuti Pelatihan Relawan Abu Putih yang diadakan sejak pukul 8.30 pagi hingga 12 siang. 
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -