Menularkan Budaya Humanis
Jurnalis : Apriyanto , Fotografer : Apriyanto
|
| ||
Pada hari itu sebanyak 55 peserta yang berasal dari sekolah-sekolah Buddhis di Jabodetabek, Padang, dan Pekanbaru menerima materi tentang bagaimana Tzu Chi memberikan pendidikan yang humanis pada siswa-siswinya di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dan Sekolah Tzu Chi Indonesia di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Tinnie Tiolani sebagai relawan pendidikan menjelaskan, bahwa pendidikan yang diterapkan di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi dan Sekolah Tzu Chi Indonesia adalah pendidikan dalam kehidupan sehari-hari, budi pekerti, dan budaya humanis. Menurutnya Tzu Chi memiliki empat moto dalam mendidik, yaitu Ci (Welas Asih Tanpa Penyesalan), maksudnya seorang pendidik harus bisa mengasihi anak-anak didiknya seperti mengasihi anaknya sendiri. Dan jika seseorang sudah memilih kariernya sebagai seorang pendidik maka janganlah lagi ada penyesalan. Bei (Belas Kasih Tanpa Mengeluh), artinya dalam mendidik anak-anak, seorang pendidik harus memiliki kepedulian kepada sesama, dengan demikian ia baru bisa menularkannya kepada anak didik. Xi (Sukacita Tanpa kerisauan), seorang pendidik harus bisa membuat anak-anak merasa bahagia. Sedangkan She (Rela Memberi Tanpa Pamrih), maksudnya seorang pendidik harus memiliki ketulusan, kebenaran, dan kejujuran dalam memberi. Dengan meresapi moto inilah para pendidik di Tzu Chi baru bisa mengarahkan kepada anak-anak didiknya untuk berbudaya humanis, karena para pendidik telah menjadi model yang baik.
Keterangan :
Lebih lanjut, pada sesi berikutnya CarolineWidjanarko Principal Primary Sekolah Tzu Chi (Kepala Sekolah Dasar) menambahkan bahwa keberhasilan dalam pendidikan budaya humanis Tzu Chi terletak pada satu pandangan yang sama dan setiap pendidik pernah menjalani kebiasaan baik serta menghayatinya. Menurutnya sebelum mengajarkan anak-anak tentang berbakti kepada orang tua, maka seorang pendidik harus paham dan menghayati terlebih dulu tentang makna berbakti. Selain itu para pendidik juga harus bisa mengajak anak didiknya merasakan tentang berbakti dengan sebuah tindakan nyata. Setelah semua ini bisa diterapkan secara konsisten dan berulang, lama-kelamaan seorang anak akan mampu memiliki rasa syukur, menghormati, dan mengasihi dalam kehidupan sehari-hari. “Untuk mencapai humanis, anak-anak diajarkan tentang berbakti kepada orang tua. Karena sumber dari segala kebajikan adalah berbakti,” kata Caroline. Sampai acara ini berakhir pada pukul 21.00, para peserta terlihat begitu antusias dalam menyerap semua materi. Setidaknya pelatihan yang diadakan selama dua hari (21 sampai dengan 22 Desember) ini memberikan pemahaman kepada para pendidik tentang cara mengajar yang humanis, sehingga mereka bisa lebih siap untuk membangun kekompakkan dan menyerap budaya humanis. | |||
Artikel Terkait

Empati Berlabuh di Hati, Kebajikan Menyertai
01 April 2015 Tangis oma Wiwik meledak keras ketika Ridwan, salah seorang relawan Tzu Chi mencium tangan oma Tanti yang duduk di depan oma Wiwik. Tangis itu adalah tangis nelangsa karena oma Wiwik teringat pada keluarga yang hampir tidak pernah mengunjunginya di Panti Jompo tempat dia dirawat. Air mata Oma Wiwik pelahan surut, ketika sentuhan lembut merangkul pundaknya, menghibur dan membisikkan kata penuh kasih.
Penyaluran 242 Ton Beras Cinta Kasih di Jawa Barat
04 Desember 2020
Setiap Kita Bertindak, Selalu Berdampak
24 Februari 2023Sejumlah 40 relawan Tzu Chi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat menjalankan upaya Pelestarian Lingkungan di Taman Blok D Taman Aries Jakarta Barat.