Paket Lebaran: Hangatnya Kepedulian di Kota Batam

Jurnalis : Agus Lee (Tzu Chi Batam), Fotografer : Agus Lee, Supardi (Tzu Chi Batam)
Dengan penuh hormat, relawan Tzu Chi Batam menyerahkan paket sembako cinta kasih kepada warga yang membutuhkan. Sikap membungkuk ini bukan sekadar tradisi, melainkan simbol penghargaan tulus atas perjuangan hidup mereka.

Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga sembako hampir selalu melambung tinggi. Kondisi ini makin menyulitkan sebagian masyarakat kurang mampu yang sudah hidup dalam keterbatasan. Menyadari hal tersebut, Tzu Chi Batam menyalurkan bantuan sembako penuh cinta kasih di empat titik yang tersebar di seluruh Kota Batam.

Agar pembagian berlangsung tertib, insan Tzu Chi Batam terlebih dahulu melakukan survei dan membagikan kupon dari rumah ke rumah pada 16 Maret 2025. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa penerima bantuan benar-benar mereka yang membutuhkan.

Tibalah hari pembagian sembako, 22 Maret 2025. Sejak pukul 08.00 pagi, warga mulai berdatangan ke Masjid Al-Ikhwan meskipun acara baru akan dimulai pukul 10.00. Walau cuaca tidak menentu—hujan dan panas datang silih berganti—sebanyak 42 relawan tetap bersemangat menjalin jodoh baik dengan warga sekitar.

Langkah kaki mungkin tertatih, tapi hati mereka kuat. Seorang relawan menggandeng nenek Nuraisyah (100) yang tetap bersemangat mengambil bantuan, sementara pemuda di belakangnya memanggul paket cinta kasih. Sebuah potret kepedulian lintas generasi.

Proses distribusi berjalan tertib sesuai arahan para relawan. Pengeras suara dari masjid turut membantu menyerukan kepada warga agar segera hadir dengan membawa kupon biru yang telah diterima. Mayoritas yang hadir adalah para ibu, dari yang masih muda hingga yang telah lanjut usia. Salah satunya adalah Nenek Nuraisyah, yang hidup seorang diri dan sangat bersyukur atas bantuan ini. “Ya Allah, ya Tuhan, murahkan rezeki orang yang beri sembako itu, semoga sehat-sehat, murah rezeki orangnya,” ucap nenek berusia 100 tahun ini, berulang kali mendoakan para donatur dan relawan.

Perasaan serupa juga dirasakan oleh Nurbaya, yang untuk pertama kalinya menerima bantuan sembako. Penghasilannya bersama sang suami sangat terbatas untuk kebutuhan harian, sehingga beras 10 kg beserta kebutuhan pokok lainnya terasa sangat berarti bagi keluarganya.

“Ya Allah, saya bilang. Saya senang sekali. Saya bawa kupon tadi, antri berbaris tadi. Sambil mau nangis, saya dapat beras. Saya lihat beras 10 kg, ya Allah, senang sekali. Saya nggak munafik. Senang sekali saya. Saya udah berapa bulan nggak bisa beli beras 10 kg. Paling banyak saya beli beras 5 kg, sekilo-sekilo. Jujur aja. Saya dapat beras hari ini rezeki. Ya Allah, senang sekali saya,” ujarnya penuh haru.

Di balik rumah sederhana ini, relawan menjangkau mereka yang sering luput dari perhatian. Kunjungan ini bukan hanya membawa sembako, tetapi juga membawa rasa dihargai dan tak dilupakan. Ibu Nurbaya dan kakak sepupunya, Andi Afrizal, sukacita menerima sembako dari Tzu Chi.

“Ya sedih saya, sedih terharu dapat rezeki ya gitu. Kita mau pinjam orang beras satu kilo aja belum tahu dapat lho. Kita dikasih cuma-cuma itu rasanya kayak dikasih uang jutaan lho,” tambah Nurbaya sambil menitikkan air mata.

Mengingat kakak sepupunya, Andi Afrizal, yang menderita TBC dan enggan keluar rumah, Nurbaya pun segera meninggalkan barang jualannya untuk mengambilkan sembako bagi sang kakak yang hidup sebatang kara.

“Kita kasihan dia, dia sudah berapa tahun tak kerja. Dia sakit TBC gitu. Masa yang saya sehat dapat, yang sakit tidak dapat, itu kan namanya kurang pas gitu. Kita harus memikirkan yang lain juga, bukan memikirkan diri kita sendiri,” ujarnya dengan tulus.

Selembar kupon biru, seberkas harapan. Seorang warga menerima bantuan sembako dari relawan Tzu Chi, sambil membawa cerita perjuangan yang tak terlihat—tentang lapar, cinta, dan doa-doa dalam diam.

Sebanyak 835 paket sembako penuh cinta kasih berhasil disalurkan kepada warga RW 13, Kampung Baru, Sagulung. Ketika diminta menjadi koordinator acara, Jak Thuang atau yang akrab disapa Agus, langsung menyanggupi tanpa ragu. “Saya terima aja gitu aja. Saya sih, pokoknya disampaikan, kemampuan saya ya saya terima aja. Saya nggak pernah merasa beban kerja di Tzu Chi.”

Saat ditanya alasannya, Agus sempat terdiam sejenak. “Nggak tahu ya, rasanya walaupun lelah tapi sampai ke sini rasanya lega,” katanya sambil tertawa ringan.

Hujan deras yang mengguyur Batam selama dua hari sempat membuat Agus cemas, namun bersyukur karena di hari pembagian sembako, hujan hanya turun sebentar dan tidak mengganggu jalannya kegiatan.

“Menurut saya, hari ini sangat mendukung, cuaca mendukung, relawan juga mendukung. Biar gimana kurang, ada lagi bantuan dari RT RW lagi sampai ke lokasi itu, rasanya semua sudah diatur sama Buddha. Kita ke sana itu sudah rasanya nyaman, pulang juga rasanya nyaman gitu,” ujar Agus puas.

Sumbangsih Agus dan para relawan serta kerja sama dari pihak RT RW merupakan wujud nyata dari welas asih kepada warga yang tengah mengalami kesulitan. Hal ini sejalan dengan kata perenungan Master Cheng Yen, “Welas asih adalah kesediaan untuk bersumbangsih tanpa memikirkan kesulitan dan jerih payah yang harus dihadapi.”

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Semangat Kebersamaan, Tzu Chi Bandung Bagikan 862 Paket Lebaran

Semangat Kebersamaan, Tzu Chi Bandung Bagikan 862 Paket Lebaran

26 Maret 2025

Jelang Hari Raya Idul Fitri 2025 Tzu Chi Bandung membagikan 862 Paket Lebaran untuk masyarakat yang membutuhkan. Pembagian ini dilaksanakan di pelataran Aula Jing Si Tzu Chi Bandung pada Sabtu, 22 Maret 2024.

Menjalin Cinta Kasih di Bulan Suci: 580 Paket Lebaran untuk Warga Pekojan

Menjalin Cinta Kasih di Bulan Suci: 580 Paket Lebaran untuk Warga Pekojan

14 Maret 2025

Komunitas relawan Tzu Chi di He Qi Pluit menyalurkan 580 paket Lebaran di RW 10 Pekojan, Jakarta Barat. Bukan sekadar bantuan, tetapi wujud cinta kasih.

Tzu Chi Tangerang Bagikan 1.618 Paket Lebaran untuk Warga Banten dan Bogor

Tzu Chi Tangerang Bagikan 1.618 Paket Lebaran untuk Warga Banten dan Bogor

27 Maret 2025

Dalam menyambut bulan Ramadhan, relawan Tzu Chi di He Qi Tangerang membagikan 1.618 paket sembako untuk membantu warga kurang mampu di Banten dan Bogor.

Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -