Pascakebakaran di Muara Angke

Jurnalis : Himawan Susanto, Fotografer : Himawan Susanto
 
 

fotoDalam situasi dan kondisi yang tepat, jalinan jodoh Tzu Chi dengan penerima bantuan dapat terwujud. Relawan berterima kasih karena diberikan kesempatan berbuat kebajikan dan penerima bantuan pun berterima kasih karena mendapatkan bantuan di saat yang tepat.

 

 

Satu minggu lebih sudah amukan si jago merah berlalu di Kampung Baru, Kompleks UPT Perikanan Muara Angke, Pelelangan Ikan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Namun bekas-bekas amukan si jago merah masih terlihat jelas. Ujung-ujung bambu yang berfungsi sebagai pondasi rumah petak masih tertancap di atas empang. Ya, rumah-rumah petak itu berdiri di atas empang, bukan di atas tanah seperti rumah kebanyakan.

Tak Bersisa
Hari Senin, tanggal 4 April 2011 lalu di siang hari yang terik si jago merah mengamuk dahsyat. Hampir sebagian besar rumah petak di sana ludes dilahapnya. Dari sekitar 300 rumah petak, 200 di antaranya ludes dilalap si jago merah. ”Cuma Cosmos (penanak nasi-red) aja yang bisa diselametin sisanya tidak ada sama sekali. Semua ludes kebakar,” kata Ayu, salah satu korban yang rumah petaknya terbakar. Apalagi Ayu mengaku jika api saat kebakaran itu langsung membesar. Di saat itu, Sainan suami Ayu juga hampir saja terbakar karena sedang beristirahat di dalam rumah. ”Pas saya kasih tahu udah kebakar dia baru keluar,” tambah Ayu.

Paska kebakaran, Ayu, Sainan, dan anak mereka Safirah yang baru berusia 2 tahun menetap sementara di tenda milik Palang Merah Indonesia (PMI) selama 4 hari. Barulah di hari kelima mereka menyewa sebuah rumah petak yang baru. Rumah petak seharga 110 ribu itu masih berlokasi di tempat yang sama. Saking sederhananya, Ayu dan Sainan tidak bisa tidur bersama-sama di dalam rumah petak itu. Maka di saat malam hari terkecuali di siang hari, Sainan pun beristirahat di pelelangan ikan.

foto  foto

Keterangan :

  • Para ibu juga bergembira karena dalam pembagian bantuan ini anak-anak mereka juga mendapatkan perhatian berupa sandal ataupun sepatu. (kiri)
  • Tepat sasaran, langsung, dan tertib, itulah yang selalu dikedepankan oleh relawan Tim Tanggap Darurat Tzu Chi dalam setiap kesempatan melakukan sumbangsih kepada sesama yang tertimpa musibah. (kanan)

Paket Bantuan Kebakaran Tzu Chi
Hari Senin pukul 11 siang, tanggal 11 April 2011 sinar matahari tampak tak seperti biasanya. Sinarnya tidak terik terasa karena tertutup awan tebal. Siang itu awan yang biasanya tak terlihat kini justru menyelubungi langit kota Jakarta seperti pertanda hujan akan segera turun. Namun hingga pembagian bantuan kebakaran Tzu Chi selesai dilaksanakan, hujan tak jua datang.

Siang itu, 6 relawan Tim Tanggap Darurat Tzu Chi telah selesai membagikan kupon bantuan kebakaran kepada para warga korban kebakaran. Berdasarkan data yang diperoleh dari RW dan Ketua Perkumpulan Nelayan setempat terdapat 146 keluarga (KK) yang harus mendapatkan bantuan.

Tak lama, truk milik Tzu Chi yang membawa barang bantuan tiba. Muatannya segera dibongkar, ditata, dan siap untuk dibagikan. Relawan segera bertugas sesuai dengan prosedur. Ada yang bertugas mempersiapkan antrian, bertugas menerima kupon, bertugas mengatur barisan, dan memberikan barang bantuan. Setelah semua dirasa siap, relawan segera memulai proses pembagian barang bantuan.

Satu demi satu para penerima bantuan yang memegang kupon menerima bantuan, mulai dari sebuah kotak plastik berukuran besar (container plastik-red), sandal atau sepatu anak, perlengkapan mandi, sejumlah baju layak pakai, handuk, selimut, dan kotak makanan. “Engga tahu Tzu Chi. Baru tahu ini,” kata Ayu sesaat setelah menerima bantuan. Saat ditanya apakah ia gembira atas bantuan itu, Ayu berkata,”Ya gimana dibilang seneng dibantu ya seneng. Tapi kalau bisa malah jangan kebakaran,” katanya.

foto  foto

Keterangan :

  • Tanpa menghiraukan kondisi sekitar yang riuh ramai menjelang pembagian bantuan, Safirah tetap tertidur nyenyak di dalam tenda pembagian bantuan. (kiri)
  • Meski petak tempat Amri mengontrak telah terbakar habis, ia tetap melanjutkan kehidupan. Di sela-sela waktu kerjanya, ia mencuci pakaian di dekat tempat tinggal sementaranya. (kanan)

Tepat Sasaran
Bagi Fadil Halimi, Ketua Kelompok Nelayan Angke pemberian bantuan yang dilakukan oleh Tzu Chi sangatlah ideal. “Mereka (Tzu Chi-red) memprosesnya sendiri dan membagikan secara langsung. Kalau ini enak tertib, damai, aman, dan lancar,” ujarnya. Apalagi Tzu Chi memberikan kupon sendiri sehingga tidak ada kecemburuan. Maka Fadil pun mengucapkan terima kasih kepada Tzu Chi atas partisipasi yang diberikan kepada para warga.

Sementara itu, Joe Riadi Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi mengatakan para relawan yang terlibat dalam pembagian ini sangat bahagia karena dapat memberikan langsung kepada yang membutuhkan. “Meski di sini tidak ada RT ataupun RW, kita menghubungi terlebih dahulu RW setempat (RW 11). Dari koordinasi itulah, Ketua RW kemudian merekomendasikan Pak Fadil, tokoh masyarakat sebagai penghubung Tzu Chi dengan para korban,” jelas Joe Riadi. Berbekal informasi itulah kemudian jalinan jodoh antara Tzu Chi dengan warga korban kebakaran tertaut dan kehidupan pun berlanjut.

  
 

Artikel Terkait

Suara Kasih: Menghargai Berkah dan Berbuat Baik

Suara Kasih: Menghargai Berkah dan Berbuat Baik

15 Juli 2013 Anak-anak harus berbakti kepada orang tua, menghormati guru, belajar dengan giat, dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan orang banyak. Inilah tujuan utama mengenyam pendidikan.
Indahnya Gemerincing Cinta Kasih

Indahnya Gemerincing Cinta Kasih

09 Desember 2014
Tanggal 15 November 2014 jam 09.30 WIB, sebanyak 216 siswa SMP dan SMA sudah memenuhi aula Sekolah Letjend. S. Parman untuk melakukan penuangan celengan bambu pertama.
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -