Rumah Impian Si Penambang Emas

Jurnalis : Bambang Mulyantono (Tzu Chi Singkawang), Fotografer : Bambang Mulyantono (Tzu Chi Singkawang)
 
 

fotoRelawan Tzu Chi Singkawang bergotong royong membantu pembangunan rumah Kam Siu Po, seorang penambang emas di Sagatani, Singkawang.

Emas kerap diidentikkan dengan kehidupan gemerlap, mewah dan kaya raya. Tapi realitanya jauh berbeda dengan kehidupan para penambang emasnya. Adalah Kam Siu Po (49), salah seorang penambang emas di kawasan Sak Kong - Sagatani, yang berjarak lebih dari 30 kilometer dari pusat Kota Singkawang ke arah selatan.

 

Penambang emas atau menurut istilah Singkawang pekerja ‘dompeng’ dilakukan oleh beberapa orang dalam satu tim yang berada dibawah seorang bos atau ‘theu ka’.

Bersama 7 orang lain Kam Siu Po bekerja pada seorang ‘theu ka’ bernama Anga, dan pada kawasan itu ada beberapa tim  penambang lain dibawah ‘theu ka’  alias  ‘juragan’ pendompeng yang berbeda-beda.

Cara kerja dompeng sebagai berikut: lahan yang diduga mengandung emas yang pada awalnya tertutupi oleh pohon dan semak belukar, dibongkar. Lalu digerojok dengan air bertekanan tinggi sehingga menjadi lumpur, lantas lumpur disedot ke atas dengan pipa sebesar paha orang dewasa lantas dialirkan di ayakan yang posisinya lebih tinggi.  Ayakan yang panjangnya hampir 10 meter itu diletakkan miring diberi lapisan-lapisan kain sehingga bisa menangkap biji-biji emas yang mengalir bersama air bercampur lumpur tadi.

foto  foto

Keterangan :

  • Apabila beruntung, Kam Siu Po dan 6 orang temannya bisa mendapatkan emas 3-4 gram per hari. Bila tidak beruntung mereka bisa tidak mendapatkan emas sama sekali. (kiri)
  • Kam Siu Po dan istrinya, Djong Khiuk Fun. “Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu membangun rumah kami,” ucap Djong Khiuk Fun. (kanan)

Pekerjaan seperti itu dilakukan mulai pagi hingga petang. Bila petang menjelang, kain dalam ayakan panjang itu diambil untuk dilihat seberapa banyak butir emas yang tertangkap kain penyaring tersebut. Apabila beruntung, pekerja yang berjumlah 7 orang itu bisa mendapatkan emas 3-4 gram per hari. Bila tidak beruntung bisa tidak mendapatkan emas sama sekali.

Jika harga emas per gram Rp 300.000,- penghasilan mereka antara Rp 900.000 – 1.200.000 per hari. Pembagian hasil antara pekerja dengan ‘theu ka’ antara 35 : 65, yang 35 bagian untuk tim pekerja (termasuk Kam Siu Po bersama enam orang lainnya), sedangkan yang 65 bagian adalah ‘theu ka’ (dalam hal ini Anga), yang memodali peralatan tambang,  bahan bakar dan logistik sehari-hari. Jadi penghasilan seorang pekerja seperti Kam Siu Po sekitar 900.000 x 35% : 7  = Rp 45.000 per hari.

Oleh karena pertimbangan jarak yang cukup jauh dari rumah tinggal, lokasi pekerjaan  yang berada di tengah hutan, dan cara kerja yang non stop, Kam Siu Po yang telah menjalani profesi ‘pendompeng’ selama 10 tahun ini baru bisa sebulan sekali pulang ke rumahnya  Sebelum melakoni pekerjaan ‘dompeng’, Kam Siu Po bekerja di penggergajian kayu dan pertukangan

Kam Siu Po menikah dengan Djong Khiuk Fun (55) dan dikaruniai enam orang anak: (1) Djong Tjui Kiong,  (2) Djong Tji Man, (3) Sudiharjo, (4) Djong Hiung Hiung, (5) Djong Su Kim, (6) Djong Sau Khian. Semua anak-anaknya bersekolah hanya sampai kelas 5 Sekolah Dasar. Sejak tahun 1974 sampai sekarang, menempati rumah yang beralamat di Tanjung Batu Dalam RT 013/RW 003, Desa/Kelurahan Sedau, Kec. Singkawang Selatan Kota Singkawang.

foto  foto

Keterangan :

  • Kondisi rumah keluarga Kam Siu Po sebelum dibangun oleh relawan Tzu Chi Singkawang. (kiri)
  • Pembangunan rumah yang sehat dan layak huni bagi keluarga Kam Siu Po ini dikerjakan pada bulan Mei – Juni 2011 ini. (kanan)

Kondisi rumah yang hampir roboh itu sangat memprihatinkan. Beratap daun yang tersusun tidak kerap karena lapuk dimakan usia, sehingga apabila turun hujan pasti di sana-sini terjadi bocor. Jangan ditanya kondisi di dalam rumah seperti kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Penghasilan dari bekerja ‘dompeng’ cukup untuk hidup secara pas-pasan, namun tidak untuk memperbaiki rumah, apalagi biaya sekolah anak-anak.

Satu-satunya sepeda motor yang dimiliki oleh Kam Siu Po benar-benar alat transportasi penting karena tidak ada transportasi umum dari rumah ke tempat kerjanya.

Inilah yang menjadi alas an mengapa Tzu Chi Singkawang mengadakan program bantuan bedah rumah bagi keluarga Kam Siu Po yang juga salah satu penerima bantuan Tzu Chi.  Pembangunan rumah sehat dan layak huni ini dikerjakan pada bulan Mei – Juni 2011 ini.

 “Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu membangun rumah kami. Ini benar-benar membangun baru,  bukan memperbaiki. Sejak menikah (umur 18 tahun-red), saya tinggal di rumah ini dengan keadaan seperti ini. Karena tidak ada biaya, ” kata Djong Khiuk Fun istri Kam Siu Po haru.

 

  
 

Artikel Terkait

Tzu Chi Internasional: Interaksi yang Langgeng

Tzu Chi Internasional: Interaksi yang Langgeng

19 Februari 2016
Delegasi Katolik dari Vatikan berkunjung ke Griya Jing Si Hualien, Taiwan untuk bertemu dengan Master Cheng Yen pada 18 Februari 2016. Melalui kunjungan tersebut beliau berharap bisa menyelenggarakan sebuah forum antaragama berskala internasional di Taiwan.
Upaya Agar Setiap Orang Dapat Menyayangi Bumi

Upaya Agar Setiap Orang Dapat Menyayangi Bumi

13 Maret 2023

Tzu Chi Medan kembali meresmikan titik Green Point ke-48 di Yayasan Perguruan Husni Thamrin Medan. Peresmian Green Point ini diharapkan dapat mengurangi sampah dan menjaga kelestarian bumi.

Senyum Manis Lionel

Senyum Manis Lionel

05 November 2010

Wajahnya bulat dengan hidung yang mancung dan kulit yang putih bersih. Sepasang matanya yang bening menatap dengan tajam, berusaha untuk mengenali sosok yang dilihatnya. Walau baru berumur 3 bulan, bayi laki-laki yang baru lahir tanggal 14 Juni 2010 ini sedang terbaring di atas ranjang sebuah Rumah Sakit di daerah Jakarta Barat.

Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -