Semangat dan Tekad Bodhisatwa

Jurnalis : Frawati (Tzu Chi Jambi), Fotografer : Yeyen (Tzu Chi Jambi)

foto
Minggu 23 Februari diadakan acara sederhana dalam rangka soft opening Tzu Chi Jambi. Dalam acara ini relawan saling berbagi tentang kegiatan yang telah dilakukan dan rencana ke depan Tzu Chi Jambi.

Bukan bagaimana merekrut atau menambah jumlah relawan, yang “terpenting” atau yang seharusnya adalah bagaimana kitamelatih diri sendiri ke dalam dan ke luar dengan cinta kasih, sepenuh hati, tanpa pamrih, harmonis sesama (pengurus khususnya), satukan hati, bergembira melakukan kegiatan ini, belajar dan meningkatkan kebijaksanaan kita dengan berjalan di jalan ini dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.

Kedatangan Suriadi Shixiong dan Like Shijie (relawan dari Tzu Chi Jakarta) memberikan banyak masukan dan bagaimana langkah insan Tzu Chi selanjutnya. Like Shijie mengutarakan berbagai pendapat dan saran serta bagaimana merekrut para Bodhisatwa yang ada di Jambi khususnya. Tanggal 17 Februari 2014 itu diadakan rapat sesama pengurus Tzu Chi Jambi guna membicarakan rencana pendirian Kantor Penghubung Tzu Chi di Jambi. 

Beberapa hari sebelumnya para relawan telah berkumpul di lokasi yang akan dijadikan sebagai Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi dengan melakukan bersih-bersih. Walaupun belum sepenuhnya tempatnya ini selesai dikerjakan, tetapi para relawan dengan semangat melakukan kegiatan pembersihan ini. Semua kegiatan bersih-bersih hingga acara sedekahan semua dilakukan oleh para relawan sendiri. Mereka menunjukkan semangat dan rasa kegotongroyongan dengan gembira, tak tampak kelelahan di wajah mereka.

Berlokasi di Jl. Sersan Zuraida Rawasari Jambi, Minggu 23 Februari diadakan acara sederhana dalam rangka soft opening Tzu Chi Jambi. Sekitar pukul 11.00 WIB para relawan yang telah berkumpul memasuki ruangan acara di lantai 2. Sebelum acara dimulai, Sutrisno Shixiong selaku MC bersama para relawan melakukan penghormatan kepada Master.

Sutrisno Shixiong juga menjelaskan, “Mulai besok Senin kantor yang berlokasi di Rawasari ini akan mulai beraktivitas dan beroperasi sebagai Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi.” Melalui acara ini para pengurus berharap agar semua orang dapat menyalurkan sumbangsihnya kepada orang-orang yang membutuhkan. Menumbuhkan cinta kasih di hati orang dan mengikat jodoh yang telah terjalin dengan baik.

foto   foto

Keterangan :

  • Budi Shixiong berkesempatan untuk menjelaskan dari mana asalnya dana Tzu Chi serta mensosialisasikan Form 125 (kiri).
  • Di akhir acara, relawan bersama memperagakan isyarat tangan Satu Keluarga. Bersama-sama mereka bertekad menjadi Bodhisatwa dunia yang menolong sesama umat manusia (kanan).

Acara dilanjutkan dengan menonton kilas balik Tzu Chi. Semangat para insan Tzu Chi dengan getaran cinta kasih berbagai misi telah dilakukan, salah satunya adalah celengan SMAT. Selanjutnya Rusman Shixiong mengisi sesi sharing dengan menjelaskan apa saja yang telah dilakukan sejauh ini. “Setelah melewati berbagai proses, mengenalkan Tzu Chi kepada masyarakat Jambi melalui sampah daur ulang, semangat celengan bambu, donasi, dan kegiatan rutin setiap hari Minggu, Tzu Chi Jambi terus berkembang hingga saat ini,” terangnya. Rusman Shixiong mengungkapkan rasa syukurnya bahwa kantor penghubung mulai besok akan beroperasi, walau dengan sarana dan prasarana seadanya.

Lalu giliran Herri Shixiong berbagi tentang kegiatan dalam Misi Pelestarian Lingkungan (PL). “Saat ini ada dua depo aktif yaitu depo Handil dan Selincah,” ungkap Herri Shixiong”, “hampir tiap minggu kegiatan PL dilakukan. Di sini kami juga melakukan penjemputan sampah bagi para donatur yang tidak bisa mengantar.”

Herri Shixiong juga mengungkapkan adanya rencana akan melakukan sosialisasi PL ke perumahan-perumahan yang ada di Jambi dan juga untuk mengenalkan pentingnya akan menjaga bumi kita dan pemanasan global. Salah satu hal yang dirasakan para relawan dari kegiatan PL adalah adanya rasa sukacita ketika kita bersumbangsih di sini, bergotong royong dan bersama-sama mengerjakannya.

Banyak orang bertanya darimanakah asalnya dana Tzu Chi? Kali ini Budi Shixiong berkesempatan untuk menjelaskan dari mana asalnya dana Tzu Chi serta mensosialisasikan Form 125 “Galang hati galang dana. Saatnya berbuat saatnya berbagi.” “Dana Tzu Chi berasal dari donasi para donatur yang dilakukan tiap bulannya. Lalu dari celengan bambu yang seiring perkembangan dan efisiensinya sekarang berbentuk celengan kaleng,” papar Budi sx.

Acara pun diakhiri dengan isyarat tangan Satu Keluarga dan acara ramah tamah. Semoga tekad luhur para Bodhisatwa dunia dapat terwujud demi menciptakan dunia damai bebas dari bencana.


Artikel Terkait

Kebahagiaan Tak Hanya Milik Warga Penerima Bantuan, Tapi Juga Para Relawan Tzu Chi

Kebahagiaan Tak Hanya Milik Warga Penerima Bantuan, Tapi Juga Para Relawan Tzu Chi

12 April 2021
Penyaluran satu juta paket Bantuan Sosial Peduli Covid-19 yang dimulai sejak 25 Februari 2021, tak hanya berkisah tentang kebahagiaan warga penerima, tapi juga kebahagiaan yang dirasakan para relawan Tzu Chi. Semakin banyak paket yang dibagikan, semakin banyak tenaga dan pikiran yang harus dicurahkan. Namun bukannya letih, yang dirasakan para relawan justru kebahagiaan yang mendalam. 
Pengobatan Antar Pulau

Pengobatan Antar Pulau

24 Desember 2009 Tzu Chi Kantor Penghubung Makasar tersebut akan melakukan survei kasus kepada 5 pasien. Mereka adalah Yoshua (2) yang menderita Athesia Ani Colostomy, Salomina Swabra (5) yang menderita Megalo Cornea, Edison Swabra (3 bulan) yang menderita kasus Hydrocephalus, Martha Rumera (1 tahun 2 bulan) yang menderita tumor di pangkal hidung, dan Pieter Mamoribo (2) yang di dalam otaknya terdapat peluru
Tzu Chi Hospital, Perwujudan Cinta Kasih Seluruh Insan Tzu Chi untuk Indonesia

Tzu Chi Hospital, Perwujudan Cinta Kasih Seluruh Insan Tzu Chi untuk Indonesia

14 Juni 2023

Berdiri tepat di belakang Presiden Jokowi saat meresmikan Tzu Chi Hospital, Eka Tjandranegara bertepuk tangan paling keras. Ia diliputi kebahagiaan sekaligus haru yang begitu dalam. Apa yang dirasakannya menjadi gambaran dari suasana hati relawan Tzu Chi lainnya. Bahagia, haru, bersyukur, berkelindan mewarnai hari bersejarah ini.

Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -