Setiap Detik Berlombalah untuk Berbuat Kebajikan

Jurnalis : Ami Haryatmi (He Qi Barat 2), Fotografer : James Yip, Mery Hasan (He Qi Barat 2)


Pascabanjir, kegiatan donor darah digelar di RPTRA Kembangan Utara.

Kendati situasi dan kondisi kurang mendukung karena pascabanjir yang sangat memprihatinkan di sekitar lokasi RPTRA Kembangan Utara, namun kegiatan donor darah yang sudah diagendakan relawan komunitas He Qi Barat 2 tetap berlangsung dengan lancar (11/1/2020). Relawan tetap melangsungkan kegiatan tersebut karena mempertimbangkan stok darah PMI pada masa tanggap darurat bencana. Pun mengingat satu kata perenungan Master Cheng Yen, bahwa setiap detik berlombalah untuk berbuat kebajikan.

Kali ini calon pendonor tidak terlalu banyak, tapi ada yang menarik yaitu para pendonor banyak diikuti  oleh pasangan anak dan orang tua. Di antaranya adalah Cyinthia bersama mamanya Hendrawati Loka, keduanya bermaksud mendonorkan darah. Selain itu Cynthia juga merelakan waktu istirahatnya untuk mempersiapkan kue untuk konsumsi bagi kegiatan ini.


Cynthia bersama sang mama Hendrawati Loka. Selain berniat mendonorkan darah, Cynthia juga merelakan waktu istirahatnya untuk mempersiapkan konsumsi dalam kegitan Donor Darah.

“Selain ingin bersumbangsih darah bagi yang membutuhkan, saya memiliki kemampuan untuk membuat kue, jadi kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi orang yang membutuhkan juga adalah utama bagi saya,” ungkap gadis cantik yang mahir dalam pembuatan cake & pastry ini.

Senada dengan Cynthia adalah Ira Nur Islami, gadis manis yang rutin menjadi pendonor setia ini hadir bersama Ibunda tercinta Mursiyam.

“Ibu adalah pendorong semangat saya selama ini. Saya tidak hanya mendonorkan darah di sini, pernah seorang teman yang kritis dan membutuhkan darah segera, saya juga mendonorkan darah ketika kondisi tubuh memungkinkan. Bagi saya kesempatan berbuat baik itu harus segera ditangkap, kapan lagi?” ujar Ira sambil tertawa ceria.


Mursiyam bersama Ira Nur Islami, gadis manis yang rutin mendonorkan darah.

Tak jauh berbeda dengan Ira adalah Kehi yang mendonorkan darah bersama sang Ibu yaitu Feby. Kehi mengatakan, “Ada rasa bahagia yang tak bisa diceritakan di sini, rasa bahagia karena bisa menjadi penolong bagi orang lain. Padahal sebenarnya saya bersama ibu masih sangat sibuk menghadapi kondisi pascabanjir, tapi kapan pun ada kesempatan saya tidak boleh menyia-nyiakannya,” ucap Kehi.

Bebarapa narasumber yang mengispirasi ini seperti bersama-sama memiliki pemikiran yang senada. Ternyata tidak hanya Ibu-ibu, putrinya dan warga sekitar yang menggenggam kesempatan untuk berbuat kebajikan.

Hadir pula seorang gadis dari Jepang, Misato Hanasaka, yang baru 3 hari sampai di Indonesia dalam rangka liburan. Misato datang bersama pasangannya untuk mendonorkan darah. “Saya tinggal dan bekerja di luar Indonesia. Baru 3 hari saya sampai di Indonesia. Kali ini bersama pasangan saya mau mendonorkan darah. Sayang tekanan darah  saya rendah, jadi gagal, tapi saya bahagia karena pasangan saya berhasil mendonorkan darah,” ujar Misato Hanasaka.


Feby bersama putrinya Kehi, merasa bahagia bisa berbuat sesuatu bagi orang lain di tengan kondisi pascabanjir yang cukup dalam merendam rumahnya.

“Di Jepang saya sering donor darah. Kebutuhan yang universal ini tak mau saya sia-siakan walaupun saya sedang bersenang-senang liburan. Dalam melakukan sesuatu yang baik, tidak harus menunggu orang lain menyuruhnya, kapan pun dibutuhkan, lakukan” lanjut Misato.

Jelang penutupan kegiatan pukul 11.30, Ami Haryatmi, relawan sekaligus koordinator kegiatan menerima pesan di telpon genggam berbunyi, “Tolong tunggu saya, segera saya ‘terbang’ untuk donor darah. Jangan sampai saya kehilangan kesempatan baik ini”. Pesan tersebut datang dari Adelia Sarah. Ia  adalah salah satu pengurus RPTRA yang selama ini selalu mendukung kegiatan donor darah. Ibu muda yang aktif di bidang sosial ini sedang bertugas dalam kegiatan sosial lainnya.


Misato Hanasaka, wisatawati dari Jepang yang baru 3 hari sampai di Jakarta mengambil kesempatan untuk berbuat kebajikan.

“Saya tidak ingin kehilangan kesempatan. Prinsip saya hal baik harus diutamakan. Bersyukur masih bisa bersedekah, bersedekah tidak hanya berupa uang, namun apa yang mampu saya berikan, ya saya berikan.  Maka saya mengejar waktu ke sini selesai dari  kegiatan sosial lain,” ungkapnya setelah selesai mendonorkan darah, tepat di akhir acara.

Ungkapan Adelia Sarah tepat seperti kata perenungan Master Cheng Yen bahwa: “Setiap detik, berlombalah untuk berbuat kebajikan”.


Adelia Sarah mengatakan tidak ingin kehilangan kesempatan di saat masih bisa ikut bersedekah.

Acara donor darah tersebut berakhir pukul 12.00. relawan mengucapkan terima kasih kepada pada donor dan pengurus RPTRA Kembangan Utara yang selalu mendukung kegiatan.

Selain kantong-kantong darah, terkumpul beberapa pernyataan dari narasumber yang menginspirasi dan patut diteladani, terkumpul pula semangat berbagi kapan pun dan dimana pun bila kesempatan masih kita miliki.

Editor: Metta Wulandari


Artikel Terkait

Sehat dengan Donor Darah

Sehat dengan Donor Darah

19 November 2024

Relawan dari komunitas He Qi Pluit mengadakan kegiatan donor darah dari yang bekerja sama dengan PMI Jakarta Utara dan perhimpunan Anxi Pluit. Pada kegiatan donor darah ini PMI Jakarta Utara berhasil mengumpulkan 57 kantong darah dari 75 pendaftar.    

Bersumbangsih Membuat Hidup Berarti

Bersumbangsih Membuat Hidup Berarti

07 Agustus 2015 “Darah, bagian dari tubuh manusia yang tidak terkira nilainya dapat kita sumbangkan kepada resipien (penerima donor -red) yang membutuhkan, sehingga hidup lebih berarti dengan berbagi.” Ujar Deddy. Lebih lanjut, Deddy mengutarakan keinginannya menjadi donor rutin ke depannya.
Mari Kita Berdonor Darah

Mari Kita Berdonor Darah

18 Agustus 2011
Minggu, tanggal 14 Agustus 2011, Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Perwakilan Bali mengadakan kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis yang rutin diadakan tiga bulan sekali.
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -