Suara Kasih: Empat Pikiran Tanpa Batas

Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News
Laurencia Lou
 

Judul Asli:

Mempraktikkan Empat Pikiran Tanpa Batas demi Menyelaraskan Empat Unsur Alam

     

Sifat hakiki manusia setara Buddha dan tanpa keegoisan
Mempraktikkan Empat Pikiran Tanpa Batas demi menyelaraskan empat unsur alam
Mempraktikkan Dharma lewat tindakan nyata dan menciptakan benih berkah
Menyelaraskan ucapan dan tindakan dan bersama-sama mengemban tanggung  jawab

Bodhisatwa sekalian, tahun ini  kalian kembali mengikuti pelatihan. Melihat setiap orang begitu tekun dan diliputi kedamaian, saya merasa tenang sekaligus berterima kasih. Saya berterima kasih  karena setiap orang sangat giat  dan memiliki tekad yang sama. Itu sungguh tidak mudah. Selain itu, bisa melatih diri dengan giat,sungguh lebih   sulit lagi. Pekerjaan yang sulit, kalian telah melakukannya. Masalah yang sulit, kalian juga telah mengatasinya.   

Kalian telah memiliki semangat untuk mewariskan ajaran Jing Si. Ajaran Jing Si adalah  giat mempraktikkan jalan kebenaran. Dalam melatih diri, setiap orang harus meneguhkan pikiran, tidak takut akan kesulitan, dan harus tahu cara mengatasi berbagai kesulitandi dalam kehidupan. Jadi, ajaran Jing Si ini bertujuan untuk menjaga tekad melatih diri setiap orang sehingga setiap orang  bisa menjadi umat Buddha yang taat. Praktisi Buddhis yang sesungguhnya harus menyerap Dharma ke dalam hati. Dharma bagaikan air yang bisa membersihkan segala noda batin kita. Noda batin itu mungkin berasal dari berbagai tabiat buruk kita di masa lampau yang didasari ketamakan, kebencian, kebodohan, misalnya temperamen yang buruk  atau gemar bertikai demi kepentingan pribadi.

Setelah menerima ajaran Buddha dan bergabung di organisasi Bodhisatwa ini, kita harus mengikis semua penghalang dan konflik dalam hubungan antarsesama. Mulai sekarang, kita harus menyelaraskan ucapan dan tindakan serta membersihkan berbagai noda batin kita, seperti ketamakan, kebencian, kebodohan,  kesombongan, keraguan,  dan kebiasaan buruk lainnya. Kita harus membuang keegoisan, berpikir bagi manusia secara umum, turut mengemban tanggung jawab atas dunia, serta hidup selaras dengan alam semesta.

Ketidakselarasan kondisi iklim saat ini mendatangkan banyak kerusakan bagi bumi. ni semua bermula dari manusia. Manusia terus mementingkan kepentingan pribadi dan perhitungan dalam segala hal. Manusia selalu menginginkan lebih. Saat ketamakan manusia semakin besar, mereka akan bertikai dengan sesama sehingga menciptakan banyak penderitaan di dunia. Karena itu, kita harus bersungguh hati, menyerap Dharma ke dalam hati, dan mempraktikkan Dharma lewat tindakan nyata.

Saya sering berkata bahwa kita harus menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan tekad Guru sebagai tekad sendiri. Hati Buddha adalah hati yang murni tanpa noda. Itulah hati Buddha. Sedangkan tekad Guru, kita harus banyak menyerap Dharma ke dalam hati dan mempraktikkannya lewat tindakan nyata. Inilah Jalan Bodhisattva. Inilah tekad Guru, yakni mengemban mazhab Tzu Chi. Mazhab Tzu Chi berlandaskan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan kesimbangan batin. Inilah Empat Pikiran Tanpa Batas.

Cinta kasih berarti tanpa  penyesalan. Setelah bergabung dengan Tzu Chi, selamanya kita tidak menyesal. Ketahuilah bahwa setelah masuk ke dalam Tzu Chi, jika dapat merenung dengan sungguh-sungguh, kalian tak akan menyesal. Ini karena Tzu Chi membuat kita dapat mengembangkan makna hidup dan mengembangkan diri. Dengan melapangkan hati, dunia kita akan semakin luas. Kita juga akan banyak menjalin jodoh baik  dan menerima banyak cinta kasih dari orang lain karena kita telah banyak bersumbangsih. Dengan cinta kasih agung ini, kalian bisa mendatangkan banyak kebahagiaan  dan ketenteraman bagi dunia. Inilah kekuatan cinta kasih tanpa penyesalan.

Dengan memiliki welas asih, kita tidak akan mengeluh. Ini karena kita memahami bahwa di dalam mazhab Tzu Chi, kita memiliki perasaan senasib sepenanggungan dengan orang lain. Karena itu, kita rela bersumbangsih meski menghadapi berbagai kesulitan. Dalam menyalurkan bantuan, Setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Dengan adanya pandangan yang berbeda-beda, semua orang tentu harus berusaha mencari titik temu. Dibutuhkan welas asih dan kebijaksanaan agar kita bisa menyelesaikan segala sesuatu tanpa perselisihan antarsesama. Inilah yang disebut welas asih tanpa keluh kesah. Saya berharap setiap orang dapat berkontribusi tanpa keluh kesah dan penyesalan. Inilah yang disebut cinta kasih dan welas asih.

Selain cinta kasih tanpa penyesalan, kita harus memiliki welas asih tanpa keluh kesah, karena dengan sukacita,  kita dapat mewariskan Dharma serta membimbing setiap orang untuk senantiasa membangkitkan rasa syukur, rasa hormat,  tahu berpuas diri, dan lainnya. dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyerap Dharma ke dalam hati, kerisauan dalam hati akan bisa terkikis. Dengan menyerap Dharma,  kita tidak akan memiliki kerisauan. Jadi, inilah sukacita tanpa kerisauan dan keseimbangan batin tanpa pamrih. Kita semua memahami bahwa sejak menapaki jalan Tzu Chi, kita harus banyak bersumbangsih tanpa mengharapkan balasan  apa pun.

Saya sering berkata bahwa selain bersumbangih tanpa pamrih, kita pun harus berterima kasih kepada penerima. Dengan bersumbangsih tanpa pamrih dan berterima kasih kepada penerima, bayangkan, bukankah kondisi batin seperti itu sangat tenang dan damai? Bodhisattva sekalian, mazhab Tzu Chi  berlandaskan Empat Pikiran Tanpa Batas dan harus dipraktikkan di tengah masyarakat. Kini, empat unsur alam tengah tidak selaras.  Hanya ajaran Buddha-lah yang dapat  menyelaraskan pikiran manusia sehingga empat unsur alam bisa kembali selaras.

Kita harus mewariskan Dharma  hingga ke tengah masyarakat. Tidak peduli di negara mana pun kita tinggal, kita harus senantiasa membimbing sesama. Membimbing orang lain sesungguhnya sama dengan membimbing diri sendiri. Setiap orang memiliki tanggung jawab atas dunia karena kita semua hidup bergantung pada bumi. Kita semua hidup di kolong langit dan di atas bumi yang sama. Jadi, kita harus menjadi teladan nyata.

Kita sungguh harus membangkitkan tekad luhur untuk menyelamatkan semua makhluk, melenyapkan segala kotoran batin, mempelajari berbagai metode Dharma, dan mencapai tingkatan yang sama dengan Buddha yang merupakan hakikat sejati diri kita. Inilah tujuan praktisi Buddhis. Harap setiap orang senantiasa bersungguh hati. Diterjemahkan oleh: Laurencia Lou.

 
 

Artikel Terkait

Tidak Menyakiti Makhluk Hidup

Tidak Menyakiti Makhluk Hidup

18 Agustus 2014

Untuk mengubah padangan yang keliru tersebut, Yayasan Buddha Tzu Chi terus memberikan pemahaman kepada semua orang untuk memiliki pandangan benar mengenai arti bulan tujuh ini. Salah satunya pada acara Bulan Tujuh Penuh Berkah yang diadakan pada hari Minggu, 17 Agustus 2014. Pada acara ini relawan Tzu Chi mensosialisasikan bahwa persembahan terbaik bukanlah dengan persembahan makanan dari hewan dan membakar uang kertas, namun dengan bervegetarian setulus hati. 

Mendukung Program Vaksinasi Covid-19 di Palembang

Mendukung Program Vaksinasi Covid-19 di Palembang

05 Juli 2021
Tzu Chi Palembang bekerjasama Kodim 0418/Palembang mengadakan vaksinasi Covid-19 untuk warga Palembang. Dalam kegiatan ini, sebanyak 920 peserta berhasil divaksinasi.
Semangat Berbagi Melalui Celengan Bambu

Semangat Berbagi Melalui Celengan Bambu

11 November 2019

Relawan Tzu Chi Medan mengadakan Sosialisasi Misi Amal Tzu Chi (SMAT) di Kantor Generali Insurance pada hari Senin, 28 Oktober 2019. Kegiatan ini diikuti oleh 114 orang peserta.

Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -