Ceramah Master Cheng Yen: Mempraktikkan Cinta Kasih, Welas Asih, Sukacita, dan Keseimbangan Batin
“Pada malam tanggal 16 Februari 1998, pesawat China Airlines penerbangan 676 mengalami insiden di Dayuan. Setelah mendengar kabar ini, para relawan kita segera berhimpun di bandara. Sekitar pukul 11 malam, kami tiba di lokasi untuk berdoa bagi para korban jiwa. Di siang hari, kami juga membantu memindahkan potongan jenazah,” kata Zheng Wen-zhang, relawan Tzu Chi.
“Kami pergi ke sana hari itu dengan berpegang pada ajaran Master, yaitu menenteramkan arwah korban jiwa dan menenangkan hati keluarga korban. Saat berada di sana, dengan hati yang tulus, kami berdoa bagi para korban jiwa,” kata Yang Jin-xue, relawan Tzu Chi.
Saya sangat sedih mendengarnya meski insiden ini telah berlalu lebih dari 20 tahun. Karena itulah, dikatakan bahwa ketidakkekalan bisa terjadi dalam sekejap. Ketidakkekalan ini sangatlah tragis. Kini, saat mengenang kondisi pada saat itu, kita sungguh tidak sampai hati. Saat mengenang masa itu, kita juga mengenang keberanian kita.
Insan Tzu Chi tidak memiliki kemelekatan sehingga terbebas dari rasa takut. Tanpa keakuan, relawan kita maju dengan berani. Inilah kekuatan cinta kasih dan welas asih. Pada momen seperti itu, kita tidak memandang perbedaan. Yang ada hanyalah rasa tidak tega. Dari rasa tidak tega dan cinta kasih, tumbuhlah keberanian untuk menjangkau orang-orang dan memberikan penghiburan. Meski tahu bahwa kondisi jenazah korban tidak utuh, kita tetap memberi penghiburan dengan tulus.
Cinta kasih dan keberanian seperti ini umumnya tidak dapat kita praktikkan di kondisi biasa. Namun, begitu tragedi terjadi, keberanian kita pun terbangkitkan sehingga kita dapat mewujudkan pahala ini. Ini juga termasuk pahala. Kita melakukan sesuatu yang tidak berani dilakukan orang lain. Para relawan kita bersumbangsih tanpa keakuan. Jadi, tidak ada yang tidak bisa dilakukan.

“Insiden pesawat Singapore Airlines terjadi pada tahun 2000. Dengan pengalaman dalam insiden pesawat China Airlines, para relawan kita bisa bekerja sama dengan harmonis dalam insiden kali ini,” kata Zheng Wen-zhang, relawan Tzu Chi.
“Saat itu, kami sangat bersyukur kepada Kakak Luo Qing-yuan yang segera menyiapkan teh jahe. Sesegera mungkin, kami mengantarkan teh jahe ke pusat komando. Pada keesokan paginya, kepala jaksa berkata, ‘Dalam insiden pesawat China Airlines, kalian pernah membantu keluarga korban mengidentifikasi jenazah. Bolehkah kami meminta anggota komite Tzu Chi untuk kembali melakukan hal yang sama?’ Lalu, kami pun mengemban tanggung jawab besar ini,” kata Yang Jin-xue, relawan Tzu Chi.
“Dalam ceramah Master, Master pernah berkata bahwa bangkitkanlah belas kasih dengan ketidakgentaran dan bimbinglah semua makhluk ke tempat yang terbebas dari rasa takut. Dalam dua kali insiden pesawat terbang ini, saya melihat Master mengajari murid-muridnya sehingga hati kami menjadi sangat tenang. Sesungguhnya, apakah kami sama sekali tidak takut? Belas kasihlah yang memberi kami keberanian,” kata Lin Rui-hua, relawan Tzu Chi.
Saat itu, saya datang ke Taoyuan dan mendengar para relawan kita berbagi bahwa keluarga korban menyebutkan aksesori yang dikenakan korban dan ciri-ciri fisik korban. Saya mendengar relawan kita berbagi tentang hal ini. Saat itu, juga ada personel tentara yang berpartisipasi. Sebagian yang masih muda juga sangat takut. Kita berusaha untuk menghilangkan rasa takut mereka. Bagaimana cara kita melakukannya? Kita mengenakan gelang tasbih pada mereka, menepuk-nepuk pundak mereka, dan berusaha untuk menenangkan dan menghibur mereka. Demikianlah kehidupan.

Waktu terus berlalu di tengah ketidakkekalan. Saat itu, waktu terasa berlalu dengan lambat. Malam hari terasa sangat panjang. Siang hari, kita sangat sibuk hingga tidak ada waktu untuk beristirahat. Bahkan, malam hari pun kita sangat sibuk. Namun, langit seolah-olah tak kunjung terang. Kondisi batin orang-orang sangat rumit saat itu. Akan tetapi, waktu tetap terus berlalu.
Mengenang masa lalu, kita hendaknya memuji diri sendiri. Dalam kehidupan kita lebih dari 20 tahun yang lalu, kita pernah membangkitkan keberanian yang luar biasa untuk membantu keluarga korban yang diliputi kepiluan dan penderitaan. Para insan Tzu Chi menjangkau mereka dengan berani dan memberi penghiburan dengan lembut. Insan Tzu Chi sungguh patut dipuji. Mereka sungguh merupakan Bodhisatwa. Apa itu Bodhisatwa? Adakalanya, saya bertanya pada diri sendiri, "Sejauh apakah jarak saya dengan Bodhisatwa?"
Saya ingin memberi tahu kalian bahwa kalian adalah Bodhisatwa. Bodhisatwa sama seperti kalian, memiliki cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Bodhisatwa juga sangat berani dan tak gentar. Demikianlah Bodhisatwa. Jalan Bodhisatwa perlu ditapaki selamanya dari kehidupan ke kehidupan. Jangan pernah berhenti menapaki Jalan Bodhisatwa.

Bodhisatwa sekalian, berjalanlah selangkah demi selangkah. Kita harus mendengar, melihat, dan melakukan. Kita mendengar Dharma dan melihat kondisi dunia. Saat ada jalinan jodoh, kita juga melakukan praktik nyata. Jadi, di Jalan Bodhisatwa, kita melakukan praktik nyata. Dengan demikian, barulah kita bisa melihat kebenaran. Meneladan Buddha bagaikan mendaki gunung. Mendaki gunung membutuhkan kerja keras. Namun, begitu berhasil mencapai puncak gunung, kita bisa melihat pemandangan yang luas dan menghirup udara yang segar.
Dunia ini penuh dengan kekeruhan. Saat kita melampaui kekeruhan ini, kondisi batin kita akan menjadi sangat murni dan lapang. Kita telah melihat berbagai wujud di dunia ini. Penderitaan, kebahagiaan, dan kepiluan bercampur menjadi satu. Demikianlah kondisi dunia ini. Karena itulah, dikatakan bahwa dunia ini penuh dengan lima kekeruhan; penderitaan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Demikianlah kondisi dunia ini.
Berhubung kondisi dunia seperti ini, kita harus meneladan Buddha, kembali pada hati yang murni, dan mempraktikkan Jalan Bodhisatwa. Dari berdiri, kita berjalan, lalu mendaki gunung hingga bisa melihat pemandangan yang luas. Kita harus terus-menerus melakukan peningkatan. Inilah yang harus kita pelajari.
Memberi penghiburan dengan berani tanpa keakuan
Bersumbangsih dengan cinta kasih agung untuk memperpanjang jalinan kasih sayang
Mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin di Jalan Bodhisatwa
Melakukan praktik nyata dengan hati yang murni
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 16 Februari 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 18 Februari 2025