Master Bercerita: Karma Masa Lampau Pria Miskin


Orang-orang memiliki ketamakan. Mereka tamak bukan karena kekurangan, melainkan karena kondisi mental yang tidak benar. Saat melihat sesuatu yang mereka sukai, mereka hendak memilikinya dan berusaha untuk merebutnya. Ini akibat kondisi mental yang tidak benar. Sebagian dari mereka bahkan berpendidikan tinggi.

Kita bahkan sering mendengar tentang hilangnya barang di asrama kampus. Semua orang tahu siapa yang mencurinya. Setelah berulang kali menerima bimbingan, pencuri itu menyadari kesalahannya dan berjanji untuk berubah. Namun, saat ada orang yang kehilangan sesuatu lagi, ternyata tetap dia pelakunya.


Setelah mengunjungi psikolog, dia mungkin akan berhenti beberapa waktu. Namun, setelah itu, dia kembali mencuri. Orang-orang bertanya padanya, "Apakah kamu kekurangan uang?" Dia berkata, "Bukan, saya punya uang." Saat orang-orang bertanya mengapa dia mencuri, dia menjawab bahwa dia pun tidak tahu. Dia tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Ini termasuk gangguan mental.

Akan tetapi, ada pula orang yang murni karena tamak. Kehidupan mereka lebih sulit dari orang lain sehingga mereka berpikir, "Mereka lebih kaya dari saya. Apa salahnya saya mencuri dari mereka?" Pemikiran yang tidak benar ini membuat mereka tidak memiliki sedikit pun rasa malu atas perbuatan mereka. Dengan mencuri dan merampok, mereka bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi juga melukai orang lain.


Adakalanya, mereka mungkin tidak sengaja melukai atau membunuh orang lain sehingga menghancurkan diri sendiri. Sesungguhnya, miskin tidak menakutkan. Yang menakutkan ialah lengah atau malas. Enggan mencari mata pencaharian benar dan hanya ingin menjalani hidup dengan santai, pola pikir seperti ini juga mendatangkan penderitaan.

Ada seorang pria miskin yang hidupnya sangat terpuruk. Dia hendak bekerja, tetapi tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukannya. Di rumah bahkan tidak ada makanan untuk keesokan harinya.

Suatu hari, dia melihat pernikahan sebuah keluarga kaya yang sangat meriah. Dia juga memiliki putra yang sudah memasuki usia nikah. Melihat pernikahan anak orang lain yang begitu meriah, dia berpikir kapan putranya dapat menemukan seorang pasangan yang baik dan apa yang bisa mereka berikan kepada keluarga pasangannya.


Saat duduk sambil memikirkan hal ini, tiba-tiba dia mencium aroma yang tidak sedap. Ternyata, ada seekor anjing yang menghampirinya. Melihat kondisi anjing yang menyedihkan itu, dia pun teringat akan kondisi diri sendiri dan merasa bahwa dirinya tak jauh berbeda dengan anjing itu.

Dia berpikir, "Anjing ini tidak memiliki majikan sehingga tubuhnya menyebarkan aroma tidak sedap. Aku yang begitu miskin juga tidak berani pulang ke rumah karena tidak mampu menghidupi keluargaku." Dengan pemikiran seperti ini, dia pun tidak pulang ke rumah.


Saat itu, dia berpikir, "Mengapa aku begitu miskin? Aku akan meminta petunjuk dari Buddha." Dia lalu pergi ke vihara Buddha di Jetavana dan menceritakan kesulitan hidup dan penderitaan batinnya kepada Buddha.

Buddha sangat kasihan mendengarnya dan berkata, "Sebagaimana sebab dan kondisinya, demikian pulalah buah dan akibatnya. Di kehidupan lampau, engkau diliputi ketamakan sehingga selalu mencuri dan merampok. Tahukah engkau akibat perbuatanmu, berapa banyak orang yang mengalami kesulitan hidup, bahkan mengakhiri hidupnya karena kehilangan barang yang paling berharga bagi mereka? Inilah benih kemiskinan yang engkau tanam di kehidupan lampau sehingga menerima buah seperti ini di kehidupan sekarang."


Pria miskin ini lalu bertanya kepada Buddha, "Akibat benih yang aku tanam di kehidupan lampau, kini aku hidup miskin dan menderita. Bagaimana aku memperbaiki kehidupanku di masa mendatang?"

Buddha berkata, "Jagalah pikiranmu dengan baik. Jangan pernah membangkitkan ketamakan. Ketamakan merupakan sebab kemiskinan. Begitu ketamakan timbul, engkau harus segera melenyapkannya. Binalah cinta kasih di dalam hati."

Pria miskin ini berkata, "Aku menyayangi istri dan anakku, tetapi tidak bisa memberi mereka apa-apa. Aku merasa sangat malu sehingga menghindari mereka dan tidak berani pulang. Aku menyayangi mereka, tetapi tidak bisa memberi mereka apa-apa."


Buddha lalu berkata, "Pulanglah. Menyayangi mereka bukan berarti harus memberi materi. Engkau hendaknya memberikan sandaran batin. Jika bisa bekerja keras dan membina cinta kasih, ketamakanmu akan terkikis dan buah karmamu akan perlahan-lahan berubah. Saat ini, binalah cinta kasih dan welas asih yang setara terhadap semua makhluk."

Pria miskin ini lalu teringat akan anjing yang menyebarkan aroma tidak sedap dan menghampirinya. Belas kasihnya pun terbangkitkan. Dia lalu menceritakannya kepada Buddha. Buddha lalu tersenyum dan berkata, "Benar, jika bisa membangkitkan belas kasih terhadap semua makhluk yang menderita, bukan hanya manusia, secara alami engkau dapat membina cinta kasih."

Pria miskin ini telah memahami bahwa ketamakan tidak berujung dan membuat orang tidak pernah merasa puas. Karena itu, kita hendaknya membina cinta kasih dan welas asih terhadap segala sesuatu di Bumi ini. Akibat ketamakan, kita merasa tidak tenang dan tidak puas sehingga terus mengumbar nafsu keinginan dan akhirnya tidak memperoleh pencapaian apa pun.


Asalkan kita bisa berpuas diri serta bersedia bekerja keras dan bersumbangsih, maka tidak ada hal yang sulit. Dengan tekun melenyapkan nafsu keinginan, kita dapat berpikiran tenang dan berwawasan luas. Dengan hati Buddha yang murni, kita dapat memperoleh kedamaian terbesar dan tidaklah sulit untuk tidak mengejar kesenangan pribadi. Bukankah ini sangat mudah?

Jika bisa tekun melenyapkan nafsu keinginan terhadap materi, pikiran kita akan tenang. Dengan pikiran yang tenang, secara alami wawasan kita akan makin luas. Jadi, kita hendaknya mempertimbangkan masa depan. Janganlah kita melakukan kesalahan hanya demi kepuasan sesaat.  

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Felicia (DAAI TV Indonesia)
Penyelaras: Khusnul Khotimah
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -